0
22 Jun



Inilah 17 dalil TAK ADA NABI BARU LAGI


SETELAH NABI MUHAMMAD SAW

Assalamu’ alaikum Wr. Wb,

-----------------------------------------
1. QS AL AHZAB 40: " Bukanlah Muhammad itu bapak salah
seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah

Rasulullah dan penutup Nabi-nabi"
2. Imam Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Abu
Hurairah r.a. bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Perumpamaan saya dan para Nabi sebelum saya seperti orang

yang membangun satu bangunan lalu dia membaguskan dan

membuat indah bangunan itu kecuali tempat batu yang ada di

salah satu sudut. Kemudian orang-orang mengelilinginya dan

mereka ta’juk lalu berkata: "kenapa kamu tidak taruh batu

ini.?" Nabi menjawab : Sayalah batu itu dan saya penutup

Nabi-nabi"
3. Imam Muslim juga meriwayatkan dari Jubair bin Mut’im RA
bahwa Nabi SAW bersabda: "Sesungguhnya saya mempunyai nama-nama, saya Muhammad, saya
Ahmad, saya Al-Mahi, yang mana Allah menghapuskan kekafiran
karena saya, saya Al-Hasyir yang mana manusia berkumpul di
kaki saya, saya Al-Aqib yang tidak ada Nabi setelahnya".



4. Abu Daud dan yang lain dalam hadist Thauban Al-Thawil,
bersabda Nabi Muhammad SAW
"Akan ada pada umatku 30 pendusta semuanya mengaku nabi, dan

saya penutup para Nabi dan tidak ada nabi setelahku
5. Khutbah terakhir Rasulullah ...
" ...Wahai manusia, tidak ada nabi atau rasul yang akan

datang sesudahku dan tidak ada agama baru yang akan lah
Karena itu, wahai manusia, berpikirlah dengan baik dan

pahamilah kata-kata yang kusampaikan kepadamu. Aku

tinggalkan dua hal: Al Quran dan Sunnah, contoh-contoh

dariku; dan jika kamu ikuti keduanya kamu tidak akan pernah

tersesat ..."
6. Rasulullah SAW menjelaskan: "Suku Israel dipimpim oleh
Nabi-nabi. Jika seorang Nabi meninggal dunia, seorang nab
lain meneruskannya. Tetapi tidak ada nabi yang akan datang

sesudahku; hanya para kalifah yang akan menjadi penerusku

(Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).


7. Rasulullah SAW menegaskan: "Posisiku dalam hubungan
dengan nabi-nabi yang datang sebelumku dapat dijelaska
dengan contoh berikut: Seorang laki-laki mendirikan sebuah
bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung,

tetapi dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempa
sebuah batu yang belum dipasang. Orang-orang melihat
sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi keindahannya
tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang
dari lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang itu dan
aku adalah yang terakhir dalam jajaran Nabi-nabi". (Bukhari,

Kitab-ul-Manaqib).


8. Rasulullah SAW menyatakan: "Allah telah memberkati aku
dengan enam macam kebaikan yang tidak dinikmati Nabi-nabi
terdahulu: - Aku dikaruniai keahlian berbicara yang efektif

dan sempurna. - Aku diberi kemenangan kare musuh gentar
menghadapiku - Harta rampasan perang dihalalkan bagiku. -
Seluruh bumi telah dijadikan tempatku beribadah dan juga

telah menjadi alat pensuci bagiku. Dengan kata lain, dalam
agamaku, melakukan shalat tidak harus di suatu tempat

ibadah tertentu. Shalat dapat dilakukan di manapun di atas

bumi. Dan jika air tidak tersedia, ummatku diizinkan untuk

berwudhu dengan tanah (Tayammum) dan membersihkan dirinya
dengan tanah jika air untuk mandi langka. - Aku diutus Allah
untuk menyampaikan pesan suciNYA bagi seluruh dunia. - Dan

jajaran Kenabian telah mencapai akhirnya padaku (Riwayat
Muslim, Tirmidhi, Ibnu Majah)

9. Rasulullah SAW menegaskan: "Rantai Kerasulan dan Kenabian
telah sampai pada akhirnya. Tidak akan ada lagi rasul dan

nabi sesudahku". (Tirmidhi, Kitab-ur-Rouya, Bab
Zahab-un-Nubuwwa; Musnad Ahmad; Marwiyat-Anas bin Malik).

10. Rasulullah SAW menjelaskan: "Saya Muhammad, Saya Ahmad,
Saya Pembersih dan kekafiran harus dihapuskan melalui aku;
Saya Pengumpul, Manusia harus berkumpul pada hari kiamat

yang datang sesudahku. (Dengan kata lain, Kiamat adalah

satu-satunya yang akan datang sesudahku); dan saya adalah

Yang Terakhir dalam arti tidak ada nabi yang datang
sesudahku". (Bukhari dan Muslim, Kitab-ul-Fada’il, Bab

Asmaun-Nabi; Tirmidhi, Kitab-ul-Adab, Bab Asma-un-Nabi;

Muatta’, Kitab-u-Asma-in-Nabi; Al-Mustadrak Hakim,
Kitab-ut-Tarikh, Bab Asma-un-Nabi).

11. Rasulullah SAW menjelaskan: "Allah yang Maha Kuasa tidak
mengirim seorang Nabi pun ke dunia ini yang tidak
memperingatkan ummatnya tentang kemunculan Dajjal

(Anti-Kristus, tetapi Dajjal tidak muncul dalam masa
mereka). Aku yang terakhir dalam jajaran Nabi-Nabi dan
kalian ummat terakhir yang beriman. Tidak diragukan, suatu

saat, Dajjal akan datang dari antara kamu". (Ibnu Majah,

Kitabul Fitan, Bab Dajjal).


12. Abdur Rahman bin Jubair melaporkan: "Saya mendengar
Abdullah bin ’Amr ibn-’’As menceritakan bahwa suatu hari
Rasulullah SAW keluar dari rumahnya dan bergabung dengan

mereka. Tindak-tanduknya memberi kesan seolah-olah beliau

akan meninggalkan kita. Beliau berkata: "Aku Muhammad, Nabi

Allah yang buta huruf", dan mengulangi pernyataan itu tiga

kali. Lalu beliau menegaskan: "Tidak ada lagi Nabi

sesudahku". (Musnad Ahmad, Marwiyat ’Abdullah bin �Amr

ibn-’As).


13. Rasulullah SAW berkata: " Allah tidak akan mengutus Nabi
sesudahku, tetapi hanya Mubashirat". Dikatakan, apa yang

dimaksud dengan al-Mubashirat. Beliau berkata: Visi yang

baik atau visi yang suci". (Musnad Ahmad, marwiyat Abu

Tufail, Nasa’i, Abu Dawud). (Dengan kata lain tidak ada

kemungkinan turunnya wahyu Allah di masa yang akan datang.

Paling tinggi, jika seseorang mendapat inspirasi dari Allah,

dia akan menerimanya dalam bentuk mimpi yang suci).

14. Rasulullah SAW berkata: "Jika benar seorang Nabi akan
datang sesudahku, orang itu tentunya Umar bin Khattab".

(Tirmidhi, Kitab-ul-Manaqib).

15. Rasulullah SAW berkata kepada ’Ali, "Hubunganmu denganku
ialah seperti hubungan Harun dengan Musa. Tetapi tidak ada

Nabi yang akan datang sesudahku". (Bukhari dan Muslim, Kitab

Fada’il as-Sahaba).

16. Rasulullah SAW menjelaskan: "Di antara suku Israel
sebelum kamu, benar-benar ada orang-orang yang berkomunikasi

dengan Tuhan, meskipun mereka bukanlah NabiNYA. Jika ada

satu orang di antara ummatku yang akan berkomunikasi dengan

Allah, orangnya tidak lain daripada Umar. (Bukhari,

Kitab-ul-Manaqib)

17. Rasulullah SAW berkata: "Tidak ada Nabi yang akan datang
sesudahku dan karena itu, tidak akan ada ummat lain pengikut

nabi baru apapun". (Baihaqi, Kitab-ul-Rouya; Tabrani)


Wassalam
M. Nurhuda
Date: Fri, 13 Dec 1996 15:36:34 MET
From: M. Nurhuda
To: hikmah@isnet.org

Dikirim pada 22 Juni 2010 di AGAMAKU
26 Jul


Sebuah Cerpen Karya Emha Ainun Najib
Dipublikasi pada Friday, 17 September 2004 oleh ephi

Di Zawiyyah Sebuah Masjid Sesudah shalat malam bersama, beberapa santri
yang besok pagi diperkenankan pulang kembali ke tengah masyarakatnya,
dikumpulkan oleh Pak Kiai di zawiyyah sebuah masjid.
Seperti biasanya, Pak Kiai bukannya hendak memberi bekal terakhir,
melainkan menyodorkan pertanyaan-pertanyaan khusus, yang sebisa mungkin belum
usah terdengar dulu oleh para santri lain yang masihbelajar di pesantren.
"Agar manusia di muka bumi ini memiliki alat dan cara untuk selamat
kembali ke Tuhannya," berkata Pak Kiai kepada santri pertama, "apa yang Allah
berikan kepada manusia selain alam dan diri manusia sendiri?"
"Agama," jawab santri pertama.
"Berapa jumlahnya?"
"Satu."
"Tidak dua atau tiga?"
"Allah tak pernah menyebut agama atau nama agama selain yang satu itu,
sebab memang mustahil dan mubazir bagi Allah yang tunggal untuk memberikan
lebih dari satu macam tuntunan."
***********************************************************************

Kepada santri kedua Pak Kiai bertanya, "Apa nama agama yang dimaksudkan
oleh temanmu itu?"
"Islam."
"Sejak kapan Allah mengajarkan Islam kepada manusia?"
"Sejak Ia mengajari Adam nama benda-benda."
"Kenapa kau katakan demikian?"
"Sebab Islam berlaku sejak awal mula sejarah manusia dituntun. Allah
sangat adil. Setiap manusia yang lahir di dunia, sejak Adam hingga akhir
zaman, disediakan baginya sinar Islam."
"Kalau demikian, seorang Muslimkah Adam?"
"Benar, Kiai. Adam adalah Muslim pertama dalam sejarah umat manusia."
************************************************************************
Pak Kiai beralih kepada santri ketiga. "Allah mengajari Adam nama
benda-benda," katanya, "bahasa apa yang digunakan?"
Dijawab oleh santri ketiga, "Bahasa sumber yang kemudian dikenal
sebagai bahasa Al-Qur’an."
"Bagaimana membuktikan hal itu?"
"Para sejarahwan bahasa dan para ilmuwan lain harus bekerja sama untuk
membuktikannya. Tapi besar kemungkinan mereka takkan punya metode
ilmiah, juga tak akan memperoleh bahan-bahan yang diperlukan. Manusia telah
diseret oleh perjalanan waktu yang sampai amat jauh sehingga dalam kebanyakan
hal mereka buta sama sekali terhadap masa silam."
"Lantas bagaimana mengatasi kebuntuan itu?"
"Pertama dengan keyakinan iman. Kedua dengan kepercayaan terhadap
tanda-tanda yang terdapat dalam kehendak Allah."
"Maksudmu, Nak?"
"Allah memerintahkan manusia bersembahyang dalam bahasa Al-Qur’an Oleh
karena sifat Islam adalah rahmatan lil ’alamin, berlaku universal
secara ruang maupun waktu, maka tentulah itu petunjuk bahwa bahasa yang kita
gunakan untuk shalat adalah bahasa yang memang relevan terhadap seluruh
bangsa manusia. Misalnya, karena memang bahasa Al-Qur’anlah yang
merupakan akar, sekaligus puncak dari semua bahasa yang ada di muka bumi."

****************************************************************************
"Temanmu tadi mengatakan," berkata Pak Kiai selanjutnya kepada santri
keempat, "bahwa Allah hanya menurunkan satu agama. Bagaimana engkau
menjelaskan hal itu?"
"Agama Islam dihadirkan sebagaimana bayi dilahirkan," jawab santri
keempat,
"Tidak langsung dewasa, tua atau matang, melainkan melalui tahap-tahap
atau proses pertumbuhan."
"Apa jawabmu terhadap pertanyaan tentang adanya berbagai agama selain
Islam?"
"Itu anggapan kebudayaan atau anggapan politik bukan anggapan akidah."
"Apakah itu berarti engkau tak mengakui eksistensi agama-agama lain?"
"Aku mengakui nilai-nilai yang termuat dalam yang disebut agama-agama
itu --sebelum dimanipulasikan-- sebab nilai-nilai itu adalah Islam jua
adanya pada tahap tertentu, yakni sebelum disermpurnakan oleh Allah
melalui Muhammad rasul pamungkasNya. Bahwa kemudian berita-berita Islam sebelum
Muhammad itu dilembagakan menjadi sesuatu yang disebut
agama --dengan, ternyata, berbagai penyesuaian, penambahan atau
pengurangan-- sebenarnya yang terjadi adalah pengorganisasian. Itu
bukan agama Allah, melainkan rekayasa manusia."

*******************************************************************************
Pak Kiai menatapkan matanya tajam-tajam ke wajah santri kelima sambil
bertanya, "Agama apakah yang dipeluk oleh orang-orang beriman sebelum
Muhammad?"
"Islam, Kiai."
"Apa agama Ibrahim?"
"Islam."
"Apa agama Musa?"
"Islam."
"Dan agama Isa?"
"Islam."
"Sudah bernama Islamkah ketika itu?"
"Tidak mungkin, demikian kemauan Allah, ada nama atau kata selain Islam
yang sanggup mewakili kandungan-kandungan nilai petunjuk Allah. Islam dan
kandungannya tak bisa dipisahkan, sebagaimana api dengan panas atau es
dengan dingin. Karena ia Islam, maka demikianlah kandungan nilainya.
Karena demikian kandungan nilainya, maka Islamlah namanya. Itu berlaku baik
tatkala pengetahuan manusia telah mengenal Islam atau belum."

***********************************************************************
"Maka apakah gerangan arti yang paling inti dari Islam?" Pak Kiai
langsung menggeser pertanyaan kepada santri keenam.
"Membebaskan," jawab santri itu.
"Pakailah kata yang lebih memuat kelembutan!"
"Menyelamatkan, Kiai."
"Siapa yang menyelamatkan, siapa yang diselamatkan, serta dari apa dan
menuju apa proses penyelamatan atau pembebasan itu dilakukan?"
"Allah menyelamatkan manusia, diaparati oleh para khulafa’ atas
bimbingan para awliya dan anbiya. Adapun sumber dan tujuannya ialah membebaskan
manusia dari kemungkinan tak selamat kembali ke Allah. Manusia berasal
dari Allah dan sepenuhnya milik Allah, sehingga Islam --sistem nilai hasil
karya Allah yang dahsyat itu-- dimaksudkan untuk membebaskan manusia dari
cengkeraman sesuatu yang bukan Allah."
"Apa sebab agama anugerah Allah itu tak bernama Salam, misalnya?"
"Salam ialah keselamatan atau kebebasan. Itu kata benda. Sesuatu yang
sudah jadi dan tertentu. Sedangkan Islam itu kata kerja. Berislam ialah
beramal, berupaya, merekayasa segala sesuatu dalam kehidupan ini agar membawa
manusia kepada keselamatan di sisi Allah."

**********************************************************************************
Pak Kiai menuding santri ketujuh, "Tidakkah Islam bermakna kepasrahan?"
"Benar, Kiai," jawabnya, "Islam ialah memasrahkan diri kepada kehendak
Allah. Arti memasrahkan diri kepada kehendak Allah ialah memerangi
segala kehendak yang bertentangan dengan kehendak Allah."
"Bagaimana manusia mengerti ini kehendak Allah atau bukan?"
"Dengan memedomani ayat-ayatNya, baik yang berupa kalimat-kalimat suci
maupun yang terdapata dalam diri manusia, di alam semesta, maupun di
setiap gejala kehidupan dan sejarah. Oleh karena itu Islam adalahtawaran
pencarian yang tak ada hentinya."
"Kenapa sangat banyak orang yang salah mengartikan makna pasrah?"
"Karena manusia cenderung malas mengembangkan pengetahuan tentang
kehendak Allah. Bahkan manusia makin tidak peka terhadap tanda-tanda kehadiran
Allah di dalam kehidupan mereka. Bahkan tak sedikit di antara orang-orang
yang rajin bersembahyang, sebenarnya tidak makin tinggi pengenalan mereka
terhadap kehendak Allah. Mereka makin terasing dari situasi karib
dengan kemesraan Allah. Hasilnya adalah keterasingan dari diri mereka sendiri.
Tetapi alhamdulillah, situasi terasing dan buntu yang terjadi pada
peradaban mutakhir manusia, justru merupakan awal dari proses masuknya umat
manusia perlahan-lahan ke dalam cahaya Islam. Sebab di dalam kegelapanlah
manusia menjadi mengerti makna cahaya."

*********************************************************************************
"Cahaya Islam. Apa itu gerangan?"
Santri ke delapan menjawab, "Pertama-tama ialah ilmu pengeahuan. Adam
diajari nama benda-benda. Itulah awal mula pendidikan kecendekiaan,
yang kelak direkonstruksi oleh wahyu pertama Allah kepada Muhammad, yakni
iqra’.
Itulah cahaya Islam, sebab agama itu dianugerahkan kepada makhluk
tertinggi yang berpikiran dan berakal budi yang bernama manusia."
"Pemikiranmu lumayan," sahut Pak Kiai, "Cahaya Islam tentunya tak dapat
dihitung jumlahnya serta tak dapat diukur keluasan dan ketinggiannya:
kita memerlukan tinta yang ditimba dari tujuh lautan lebih untuk itu.
Bersediakah engkau kutanyai barang satu dua di antara kilatan-kilatan cahaya
mahacahaya itu?"
"Ya, Kiai."
"Sesudah engkau sebut Adam, apa yang kau peroleh dari Idris?"
"Dinihari rekayasa teknologi."
"Dari Nuh?"
"Keingkaran terhadap ilmu dan kewenangan Allah."
"Hud?"
"Kebangunan kembali menuju salah satu puncak peradaban dan teknologi
canggih."
"Baik. Tak akan kubawa kau berhenti di setiap terminal. Tetapi
jawablah:
pada Ibrahim, terminal Islam apakah yang engkau temui?"
"Rekonstruksi tauhid, melalui metode penelitian yang lebih memeras
pikiran dan pengalaman secara lebih detil."
"Pada Ismail?"
"Pengurbanan dan keikhlasan."
"Ayyub?"
"Ketahanan dan kesabaran."
"Dawud?"
"Tangis, perjuangan dan keberanian."
"Sulaiman?"
"Ke-waskita-an, kemenangan terhadap kemegahan benda, kesetiaan ekologis
dan keadilan."
"Sekarang sebutkan yang engkau peroleh dari Musa!"
"Keteguhan, ketegasan haq, ilmu perjuangan politik, tapi juga kedunguan
dalam kepandaian."
"Dari Zakaria?"
"Dzikir."
"Isa?"
"Kelembutan cinta kasih, alam getaran hub."
"Adapun dari Muhammad, anakku?"
"Kematangan, kesempurnaan, ilmu manajemen dari semua unsur cahaya yang
dibawa oleh para perutusan Allah sebelumnya."
****************************************************************************************
Akhirnya tiba kepada santri kesembilan. "Di tahap cahaya Islam yang
manakah kehidupan dewasa ini?"
"Tak menentu, Kiai," jawab sanri terakhir itu, "Terkadang, atau bahkan
amat sering, kami adalah Adam yang sembrono dan nekad makan buah khuldi. Di
saat lain kami adalah Ayyub --tetapi-- yang kalah oleh sakit berkepanjangan
dan putus asa oleh perolehan yang amat sedikit. Sebagian kami memperoleh
jabatan seperti Yusuf tapi tak kami sertakan keadilan dan kebijakannya;
sebagian lain malah menjadi Yusuf yang dicampakkan ke dalam sumur tanpa ada yang
mengambilnya. Ada juga golongan dari kami yang telah dengan gagahnya membawa kapak bagai
Ibrahim, tapi sebelum tiba di gudang berhala, malah berbelok mengerjakan sawahsawah
Fir’aun atau membelah kayu-kayu untuk pembangunan istana diktator itu."
Pak Kiai tersenyum, dan santri itu meneruskan, "Mungkin itu yang
menyebabkan seringkali kami tersembelih bagai Ismail, tapi tak ada kambing yang
menggantikan ketersembelihan kami."
"Maka sebagian dari kami lari bagai Yunus: seekor ikan paus raksasa
menelan kami, dan sampai hari ini kami masih belum selesai mendiskusikan dan
menseminarkan bagaimana cara keluar dari perut ikan."
Pak Kiai tertawa terkekeh-kekeh.
"Kami belajar pidato seperti Harun, sebab dewasa ini berlangsung apa
yang disebut abad informasi. Tetapi isi pidato kami seharusnya diucapkan 15
abad yang lalu, padahal Musa-Musa kami hari ini tidaklah sanggup membelah
samudera."
"Anakku," Pak Kiai menyela, "pernyataan-pernyataanmu penuh rasa sedih
dan juga semacam rasa putus asa."
"Insyaallah tidak, Kiai," jawab sang santri, "Cara yang terbaik untuk
menjadi kuat ialah menyadari kelemahan. Cara yang terbaik untuk bisa
maju ialah memahami kemunduran. Sebodoh-bodoh kami, sebenarnya telah pula
berupaya membuat tali berpeluru Dawud untuk menyiapkan diri melawan
Jalut. Tongkat Musa kami pun telah perlahan-lahan kami rekayasa, agar kelak
memiliki kemampuan untuk kami lemparkan ke halaman istana Fir’aun dan
menelan semua ular-ular sihir yang melata-lata. Kami juga mulai berguru
kepada Sulaiman si raja agung pemelihara ekosistem. Seperti Musa kami
juga belajar berendah hati kepada ufuk ilmu Khidhir. Dan berzikir. Bagai Zakaria, kami memperpeka
kehidupan kami agar memperoleh kelembutan yang karib dengan ilmu dan
kekuatan Allah. Terkadang kami khilaf mengambil hanya salah satu watak
Isa, yakni yang tampak sebagai kelembekan. Tetapi kami telah makin mengerti
bagaimana berguru kepada keutuhan Muhammad, mengelola perimbangan
unsur-unsur, terutama antara cinta dengan kebenaran. Sebab tanpa cinta,
kebenaran menjadi kaku dan otoriter. Sedangkan tanpa kebenaran, cinta
menjadi hanya kelemahan, keterseretan, terjebak dalam kekufuran yang
samar, hanyut dan tidak berjuang."

****************************************************************************
Betapa tak terbatas apabila perbincangan itu diteruskan jika tujuannya
adalah hendak menguak rahasia cahaya Islam.
"Sampai tahap ini," kata Pak Kiai, "cukuplah itu bagi kalian, sesudah
dua pertanyaan berikut ini kalian jawab."
"Kami berusaha, Kiai," jawab mereka.
"Bagaimana kalian menghubungkan keyakinan kalian itu dengan keadaan
masyarakat dan negeri di mana kalian bertempat tinggal?"
"Kebenaran berlaku hanya apabila diletakkan pada maqam yang juga benar.
Juga setiap kata dan gerak perjuangan," berkata salah seorang.
"Sebaik-baik urusan ialah di tengah-tengahnya, kata Rasul Agung. Harus
pas. Tak lebih tak kurang," sambung lainnya.
"Muhammad juga mengajarkan kapan masuk Gua Hira, kapan terjun ke tengah
masyarakat," sambung yang lain lagi.
"Mencari titik koordinat yang paling tepat pada persilangan ruang dan
waktu, atau pada lalu lintas situasi dan peta sejarah."
"Ada dakwah rahasia, ada dakwah terang-terangan."
"Hikmah, maw’idhah hasanah, jadilhum billati hiya ahsan."
"Makan hanya ketika lapar, berhenti makan sebelum kenyang. Itulah
irama. Itulah sesehat-sehat kesehatan, yang berlaku bagi tubuh maupun proses
sejarah."
"Perjuangan ialah mengetahui kapan berhijrah ke Madinah dan kapan
kembali ke Makkah untuk kemenangan."
"Dan di atas semua itu, Rasulullah Muhammad bersedia tidur beralaskan
daun kurma atau bahkan di atas lantai tanah."
Pak Kiai tersenyum, "Apa titik tengah di antara kutub kaku dan kutub
lembek, anak-anakku?"
"Lentur, Kiai!" kesembilan santri itu menjawab serentak, karena kalimat
itulah memang yang hampir setiap hari mereka dengarkan dari mulut Pak
Kiai sejak hari pertama mereka datang ke pesantren itu.
"Fal-yatalaththaf!" ucap Pak Kiai akhirnya sambil berdiri dan menyalami
santri-santrinya satu per satu, "titik pusat Al-Qur’an!"

1987
Emha Ainun Nadjib

Dikirim pada 26 Juli 2009 di AGAMAKU
Awal « 1 » Akhir


connect with ABATASA