0
Dikirim pada 15 Maret 2011 di BID’AH ITU SESAT

 

Hukum Mengucapkan "Shadaqallahul ’azhim" ketika selesai membaca Al-Qur’an
Syaikh Ibnu Baz
 
Pertanyaan:
Saya sering mendengar, bahwa mengucapkan "shadaqallahul ’azhim" ketika selesai membaca Al-Qur’an adalah perbuatan bid’ah. Namun sebagian orang yang mengatakan bahwa itu boleh, mereka berdalih dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala , "Katakanlah: ’Benarlah (apa yang difirmankan) Allah’." (Ali Imran: 95). Kemudian dari itu, sebagian orang terpelajar mengatakan kepada saya, bahwa apabila Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam hendak menghentikan bacaan Al-Qur’an seseorang, beliau mengatakan, "cukup" dan beliau tidak mengatakan, "shadaqallahul ’azhim." Pertanyaan saya: Apakah ucapan "shadaqallahul ’azhim" dibolehkan setelah selesai membaca Al-Qur’anul Karim. Saya mohon perkenan Syaikh menjelaskannya.

Jawaban:
Mayoritas orang terbiasa mengucapkan "shadaqallahul ’azhim" ketika selesai membaca Al-Qur’anul Karim, padahal ini tidak ada asalnya, maka tidak boleh dibiasakan, bahkan menurut kaidah syar’iyah hal ini termasuk bid’ah bila yang mengucap-kannya berkeyakinan bahwa hal ini sunnah. Maka hendaknya ditinggalkan dan tidak membiasakannya karena tidak adanya dalil yang menunjukkannya. Adapun firman Allah, "Katakanlah, ’Benarlah (apa yang difirmankan) Allah’." (Ali Imran: 95) bukan mengenai masalah ini, tapi merupakan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menjelaskan kepada manusia bahwa apa yang difirmankan Allah itu benar, yaitu yang disebutkan di dalam kitab-kitabNya yang agung, yakni Taurat dan lain-lainnya, dan bahwa Allah itu Maha-benar dalam ucapanNya terhadap para hambaNya di dalam KitabNya yang agung, Al-Qur’an. Tapi ayat ini bukan dalil yang menunjukkan sunnahnya mengucapkan "shadaqallah" setelah selesai membaca Al-Qur’an atau membaca beberapa ayatnya atau membaca salah satu suratnya, karena hal ini tidak pernah ditetapkan dan tidak pernah dikenal dari Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam dan tidak pula dari para sahabat beliau -rodhiallaahu’anhu-.

Ketika Ibnu Mas’ud -rodhiallaahu’anhu- membacakan awal-awal surat An-Nisa di hadapan Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam , saat bacaannya sampai pada ayat,‏

"Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)." (An-Nisa’: 41).

Beliau berkata kepada Ibnu Mas’ud, "Cukup", Ibnu Mas’ud menceritakan, "Lalu aku menoleh kepada beliau, ternyata kedua matanya meneteskan air mata." [1]Maksudnya, bahwa beliau menangis saat disebutkannya kedudukan yang agung itu pada Hari Kiamat kelak, yaitu sebagaimana yang disebutkan dalam ayat tadi, "Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu. (Hai Muhammad) sebagai saksi atas mereka." (An-Nisa’: 41). Yaitu terhadap umat beliau. Dan sejauh yang kami ketahui, tidak ada seorang ahlul ilmi pun yang menukil dari Ibnu Mas’ud -rodhiallaahu’anhu- bahwa ia mengucapkan "shadaqallahul ’azhim" ketika Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan, "Cukup". Maksudnya, bahwa mengakhiri bacaan Al-Qur’an dengan ucapan "shadaqallahul ’azhim" tidak ada asalnya dalam syari’at yang suci. Tapi jika seseorang melakukannya sekali-sekali karena kebutuhan, maka tidak apa-apa.
 

 



Dikirim pada 15 Maret 2011 di BID’AH ITU SESAT
comments powered by Disqus


connect with ABATASA