0
12 Mar
Dikirim pada 12 Maret 2011 di KATA-KATA BERHARGA
SAHABAT SEJATI
Oleh: Abdullah Zaen
 
Alhamdulillahi wahdah, wash shalatu was salamu ala man la nabiyya ba’dah
 
Rebutan klaim sobat sejati
 

A. “Kriiiiing….kriiiiing…kriiiing”, dering hp membuat Adi terpaksa bangun dari tidurnya. “uhh.. siapa sich pagi-pagi buta          gini ganggu orang saja, mana musim dingin lagi!”, keluh si Adi sambil melihat layer hpnya. Ternyata Budi sobat              karibnya. “na”am…”, jawab Adi dengan suara serak orang yang bangun tidur. “Assalamu’alaikum, dah                              bangunbelum? Dah masuk waktu subuh nich!”, sambung si Budi membuka pembicaraan. Sambil melihat jam              siAdi menjawab, “oh ya, jazaakallah khaira, antum emang sobat sejatiku kawan…,”.

 
B. “Hai Di, ada film baru nich, seru bangets! Mau nonton gak”? kata si Toni kepada
       si Andi teman akrabnya, saat istirahat kuliah. “wah.. boleh juga tuch, film apa  
       sich ? gue jadi penasaran!” jawab si Andi. “Entar aja ente liat aja sendiri,
       pokoknya di jamin seru dech!,” balas si Toni bikin penasaran. “Okelah entar ane
       ke kamar ente ya… ente benar-benar sobat sejatiku!,” sambil masuk lokalnya
       kembali.
 
Dari penggalan dua cerita di atas para pelakunya mengklaim kawanya adalah “sobat sejati”, tetapi manakah yang sebenarnya bias di sebut sebagai sobat sejati? Mungkin tulisan di bawah ini bias sedikit menggambarkan seperti apakah yang disebut sobat sejati itu, dan seperti apakah sibat yang tidak sejati itu!
 
Sahabat merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi seorang manusia
 
Orang arab sering berkata, “ Al-insan madaniyyun bith thab’i”, alias: “manusia itu adalah makhluk social”. Betul, manusia dalam kehidupan sehari hari membutuhkan interaksi dengan manusia lainya. Meskipun manusia itu hidupnya jauh dari keramaian.
 
Berhubung dengan tabiat manusia yang demikian itu, Islam tidak menghalangi manusia untuk menyalurkan insting kemanusiaanya. Islam hanya memberikan rambu-rambu (norma-norma) agar seorang manusia itu tidak keluar dari jalur syariat saat berinteraksi dengan sesamanya.
 
Dalam menyampaikan norma-norma itu Islam menggunakan berbagai macam cara. Diantaranya adalah dengan cara membandingkan antara teman yang baik dengan teman yang buruk, sebagaimana sabda RasulullahShallallahu ’alaihi wa sallam :
 
perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk, bagaikan penjual minyak wangi dan tukan besi. Penjual minyk wangi, jika ia tidak menghadiahkan minyak wangi, maka engkau akan beli darinya, atau paling tidak engkau akan ketularan harumnya. Sedangkan tukang besi, jika bajumu tidak terbakar akibat terkena percikan api yang ada di tungku besinya, setidak-tidaknya engkau ( akan keluar keluar dari tempat kerjanya ) dalam keadaan bau asap”. ( HR. Bukhari dan Muslim, dengan redaksi Muslim dan hadits Abu Musa Al Asy’ari).
 
Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam menjelaskan bahwa teman yang baik akan menguntungkan kita sedikit atau banyak. Sebagaimana teman yang buruk akan merugikan kita sedikit ataupun banyak.
 
Tetapi siapakah teman yang baik, dan siapa pula teman yang buruk ?
 
Barometer Sobat Sejati
 
Sebagai agama yang sempurna, Islam tidak mungkin melewatkannya dari pembahasanya. Ada beberapa ayat dan hadits yang membahasnya, di antarannya firman Allah Ta’ala
 
Mereka saling nasehat-menasehati dalam kebenaran”. (QS. Al-‘Ashr:3)
 
Juga sabda Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam,
 
Bantulah saudaramu ketika ia berbuat zhalim atau ketika ia di zhalimi!”. Para sahabat bertanya, “ wahai Rsulullah, membantu saudara kita ketika di zhalimi sudah maklum bagi kami, tapi apa maksudnya membantu dia ketika ia berbuat zhalim ?”. Beliau menjawab, “Engkau cegah ia”. (HR. Bukhari dan Muslim, dengan redaksi Bukhari, dari hadits Anas bin Malik).
 
Sedikit banyaknya ayat dan hadits dan dalil-dalil yang senada sudah menggambarkan kepada kita kriteria sobat sejati itu.
 
Kriteria sobat sejati itu adalah:
 
1. Senantiasa mengajak kita kepada kebaikan dan tidak tinggal diam ketika kita
    terjerumus dalam kesalahan. Jika sebaliknya, maka itu indikasi dia bukanlah sobat
    sejati kita.
2. Sobat sejati bukanlah yang mengajak kita untuk menghabiskan waktu dalam hal yang
    kurang bermanfaat. Sampai-sampai lupa berjama’ah di Masjid.
3. Sobat sejati bukanlah yang menjauhkan kita dari thalabul ‘ilm, dengan mengajak kita
    sibuk bekerja.
4. Sobat sejati bukanlah yang mendoktrin kita untuk membangun wala’ dan baro’ (cinta
    dan benci karena Allah) di luar kepentingan yayasan, ormas, partai, ras, suku, daerah,
    almamater, dan lainya.
5. Sobat sejati bukanlah yang hanya diam saja dan enggan untuk mengingatkan kita saat
    melihat kita terjerumus dalam suatu kesalahan, baik salah dalam hal aqidah, ibadah,
    manhaj dakwah, maupun akhlak dengan dalih menjaga tali ukhuwah.
6. Sobat sejati bukanlah yang tidak malu dan canggung untuk memberikan media-media
    maksiat kepada kita.
7. Sobat sejati bukanlah yang menularkan “penyakit malas” kepada kita untuk pergi ke
    Masjid yang paling utama.
8. Sobat sejati bukanlah yang mencontohkan kepada kita untuk sering absent dari belajar.
 
Tetapi………
 
- Sobat sejati itu adalah; ia tidak bosan mengajak kita berlomba-lomba dalam menimba
 ilmu, baik di bangku belajar maupun di halaqah para ulama.
- Sobat sejati ialah: yang senantiasa mengajak kita untuk bersemangat dalam beribadah.
- Sobat sejati adalah: yang tidak bakhil untuk nelpon atau sekedar missed call di
 waktu-waktu shalat.
- Sobat sejati ialah: yang tidak segan untuk menegur kita dengan bahasa yang santun,
  jika kita keliru.
 
Tapi, sobat sejati juga yang :
 
- Jika kita berpapasan denganya, maka ia bersegera mengucapkan salam, menjabat tangan
 serta bermuka manis.
- Jika kita tertimpa kesusahan, maka ia menunjukkan rasa empatinya. Serta bersegera 
 mengulurkan bantuan.
- Jika kita sedang ada masalah, ia pengertian untuk meluangkan waktunya untuk
 mendengarkan curahan isi hati kita, serta berupaya memberikan solusi yang tepat.
- Jika kita terdesak dalam kebutuhan financial, maka dengan ringan ia meminjamkan
 sebagian sezeki yang ia miliki.
- Jika kita sakit, ia segera mengantar kerumah sakit, mencarikan obat, atau menyediakan
 makan. Sihingga kita tidak terpaksa pindah ke kelompok lain karena teman satu  
 kelompok kurang peduli dengan nasib kita.
- Jika kita sedang kesulitan dalam belajar, maka ia rela meluangkan waktu untuk
 membantu kita mengatasi kesulitan itu.
- Kalau kita sedang naik angkutan, ia berusaha mendahului untuk membayarnya.
- Jika ia dapat kiriman dari rumah, ia tidak pelit membaginya pada kita.
- Jika akan pidah tempat, ia segera menawarkan bantuan.
- Jika kita khilaf hingg menyakiti perasaanya, ia segera memaafkan kita. Dan tidak
 dendam kepada kita.
- Jika ia berbincang, maka ia bertutur dengan kata yang sopan serta memilih kata-kata
 yang manis.
- Sesekali ia berkunjung ke tempat kita, atau mengajak kita makan bersamanya. Dalam
 rangka mempererat tali ukhuwah.
- Dia bukanlah tipe orang yang senantiasa ingin menunjukkan kelebihannya pada orang
 lain. Dari segi apapun.
- Dia senantiasa berusaha menyesuaikan diri dengan sifat dan tabiat temanya. Selama
 tidak menyalahi syari’at.
 
 
Dimanakah kita bisa menemukan sobat sejati tersebut ?
 
Tempat yang sangat ideal untuk menemukan sobat sejati adalah dalam halaqah-halaqah ilmu syar’i, karena tidak ada orang yang paling mulia akhlaknya kecuali orang yang mengamalkan ilmu syar’i yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam. Atau dengan cara mengujinya, sesuai atau tidak dengan kriteria-kriteria di atas.

Wallahu a’lam 



Dikirim pada 12 Maret 2011 di KATA-KATA BERHARGA
comments powered by Disqus


connect with ABATASA