0
20 Jan


PACARAN
YANG ISLAMI, MUNGKINKAH ada?

Disadur dari majalah Al-FURQON. Muharrom 1430
Sebuah fitnah besar menimpa pemuda-pemudi generasi ISLAM pada zaman sekarang. Mereka terbiasa melakukan perbuatan yang dianggap wajar padahal termasuk maksiat di sisi Alloh . Perbuatan tersebut adalah “pacaran”, yaitu hubungan pranikah antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom. Biasanya hal ini dilakukan oleh sesama teman sekelas atau sesama rekan kerja atau yang lainnya. Sangat disayangkan, perbuatan keji ini telah menjamur di masyarakat kita. Apalagi sebagian besar stasiun televisi banyak menayangkan sinetron tentang pacaran di sekolah maupun di kantor. Tentu hal ini sangat merusak moral kaum muslimin. Namun, anehnya, orang tua merasa bangga kalau anak perempuannya memiliki seorang pacar yang sering mengajak kencan. Ada juga yang melakukan pacaran beralasan untuk ta’aruf (berkenalan). Padahal perbuatan ini merupakan dosa dan amat buruk akibatnya. Oleh sebab itu, mengingat perbuatan haram ini sudah begitu memasyarakat, kami memandang perlu untuk membahasnya pada kesempatan ini.
Pacaran dari Sudut Pandang Islam
Pacaran tidak lepas dari tindakan menerjang larangan-larangan Alloh . Fitnah ini bermula dari pandang-memandang dengan lawan jenis kemudian timbul rasa cinta di hati sebab itu, ada istilah “dari mata turun ke hati”kemudian berusaha ingin memilikinya, entah itu dengan cara kirim SMS atau surat cinta, telepon, catting atau yang lainnya. Setelah itu, terjadilah keinginan saling bertemu dan bertatap muka, menyepi, dan saling bersentuhan sambil mengungkapkan rasa cinta dan sayang. Semua perbuatan tersebut dilarang dalam Islam karena merupakan jembatan dan sarana menuju perbuatan yang lebih keji, yaitu zina. Bahkan, boleh dikatakan, perbuatan itu seluruhnya tidak lepas dari zina.
Perhatikanlah رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda : “Ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, akan diperolehnya hal itu, tidak bisa tidak. Kedua mata itu berzina, zinanya dengan memandang. Kedua telinga itu berzina, zinanya dengan mendengarkan. Lisan itu berzina, zinanya dengan berbicara. Tangan itu berzina, zinanya dengan memegang. Kaki itu berzina, zinanya dengan melangkah. dan berangan-angan sedangkan kemaluan yang membenarkan itu semua atau mendustakannya.”(H.R. Muslim: 2657, alBukhori: 6243)
Al-Imam an-Nawawi berkata: “Makna hadits di atas, pada anak Adam itu ditetapkan bagiannya dari zina. Di antara mereka ada yang melakukan zina secara hakiki dengan memasukkan farji (kemaluan)nya ke dalam farji yang haram. Ada yang zinanya secara majazi (kiasan) dengan memandang wanita yang haram, mendengar perbuatan zina dan perkara yang mengantarkan kepada zina, atau dengan sentuhan tangan di mana tangannya meraba wanita yang bukan mahromnya atau menciumnya, atau kakinya melangkah untuk menuju ke tempat berzina, atau melihat zina, atau menyentuh wanita yang bukan mahromnya, atau melakukan pembicaraan yang haram dengan wanita yang bukan mahromnya dan semisalnya, atau ia memikirkan dalam hatinya. Semuanya ini termasuk zina secara majazi.” (Syarah Shohih Muslim: 16/156157)
Sementara itu, hati berkeinginan. Adakah di antara mereka tatkala berpacaran dapat menjaga pandangan mata mereka dari melihat yang haram sedangkan memandang wanita ajnabiyyah (bukan mahrom) atau laki-laki ajnabi (bukan mahrom) termasuk perbuatan yang diharamkan?!

رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda :
“Tidaklah seorang lak-laki bersepi-sepian dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) kecuali setan mejadi yang ketiganya"”.
[Hadits Riwayat At-Tirmidzi dalam Al-Fitan 2165, Ahmad 115]
Ta’aruf Dengan Pacaran, Bolehkah?
Banyak orang awam beranggapan bahwa pacaran adalah wasilah (sarana) untuk berta’aruf (berkenalan). Kata mereka, dengan berpacaran akan diketahui jati diri kedua ‘calon mempelai’ supaya nanti jika sudah menikah tidak kaget lagi dengan sikap keduanya dan bisa saling memahami karakter masingmasing. Demi Allah, tidaklah anggapan ini dilontarkan melainkan oleh orang-orang yang terbawa arus budaya Barat dan hatinya sudah terjangkiti bisikan setan/iblis. Tidakkah mereka menyadari bahwa yang namanya pacaran tentu tidak terlepas dari kholwat (berdua-duaan dengan lawan jenis) dan ikhtilath (laki-laki dan perempuan bercampur baur tanpa ada hijab/tabir penghalang)?! Padahal semua itu telah dilarang dalam Islam. Perhatikanlah tentang larangan tersebut sebagaimana tertuang dalam sabda رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : “Sekalikali tidak boleh seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali wanita itu bersama mahromnya.” (H.R. al-Bukhori: 1862, Muslim: 1338)
Barang siapa membantu seseorang yang berpacaran, membantu memenuhi keinginan mereka, membantu menyampaikan suratnya/pesannya pada pacar orang itu maka ia bisa disebut membantu perzinaan yang mereka lakukan. Dan barang siapa membantu perbuatan zina maka ia sama dengan pelaku zina tersebut. Oleh karena itu janganlah sekali-kali kalian membantu perbuatan mereka.
قَالَ اللهُ تَعَالَى :
“………Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”.( Q.S. Al-maidah : ayat 2)
Al-Hafizh Ibnu Hajar alAsqolaniy berkata: “Hadits ini menunjukkan bahwa larangan bercampur baur dengan wanita yang bukan mahrom adalah ijma’ (kesepakatan) para ulama.” (Fathul Bari: 4/100)
Oleh karena itu, kendati telah resmi melamar seorang wanita, seorang laki-laki tetap harus menjaga jangan sampai terjadi fitnah. Dengan diterima pinangannya itu tidak berarti ia bisa bebas berbicara dan bercanda dengan wanita yang akan diperistrinya, bebas surat-menyurat, bebas bertelepon, bebas berSMS, bebas chatting, atau bebas bercakap-cakap apa saja. Wanita tersebut masih tetap ajnabiyyah baginya hingga berlangsungnya akad nikah. Begitu juga
dengan pasangan yang baru sebatas berta’aruf / nadhor juga disebut ajnabiyyah dan ajnabi. Lalu disebut apakah yg pacaran itu ?
Adakah Pacaran Islami?
Ada pula pemuda-pemudi aktivis organisasi Islam—yang katanya punya semangat terhadap Islam—disebabkan dangkalnya ilmu syar’i yang mereka miliki dan terpengaruh dengan budaya Barat yang sudah berkembang, mereka memunculkan istilah “pacaran islami” dalam pergaulan mereka. Mereka hendak tampil beda dengan pacaran-pacaran orang awam. Tidak ada saling sentuhan, tidak ada pegang-pegangan. Masing-masing menjaga diri. Kalaupun saling berbincang dan bertemu, yang menjadi pembicaraan hanyalah tentang Islam, tentang dakwah, saling mengingatkan untuk beramal, dan berdzikir kepada Alloh serta mengingatkan tentang akhirat, surga, dan neraka. Begitulah katanya! Ketahuilah, pacaran yang diembel-embeli Islam ala mereka tak ubahnya omong kosong belaka. Itu hanyalah makar iblis untuk menjerumuskan orang ke dalam neraka. Adakah mereka dapat menjaga pandangan mata dari melihat yang haram sedangkan memandang wanita ajnabiyyah atau lakilaki ajnabi termasuk perbuatan yang diharamkan?! Camkanlah
قَالَ اللهُ تَعَالَى :
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ قُلْ
(30).لِلْمُؤْمِنِينَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
(31)………يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
“Katakanlah (wahai Muhammad) kepada lakilaki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Dan katakanlah kepada wanitawanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka………” (Q.S. anNur : 30-31)
Tidak tahukah mereka bahwa wanita merupakan fitnah yang terbesar bagi lakilaki?
رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم bersabda: “Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnahnya wanita.” (H.R. al-Bukhori: 5096)
Segeralah Menikah Bila Sudah Mampu
Para pemuda / pemudiyang sudah berkemampuan lahir dan batin diperintahkan
agar segera menikah. Inilah solusi terbaik yang diberikan Islam karena dengan menikah seseorang akan terjaga jiwa dan agamanya. Akan tetapi, jika memang belum mampu maka hendaklah berpuasa, bukan berpacaran.
رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم bersabda: “Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu menikah maka segeralah menikah karena sesungguhnya menikah itu lebih menjaga kemaluan dan memelihara pandangan mata. Barang siapa yang belum mampu maka hendaklah berpuasa karena puasa menjadi benteng (dari gejolak berahi).”
(H.R. al-Bukhori: 5066)
Al-Imam Nawawi menjelaskan: “Yang dimaksud mampu menikah adalah mampu berkumpul dengan istri dan memiliki bekal untuk menikah.”
(Fathul Bari: 9/136)
Dengan menikah segala kebaikan akan datang. Itulah pernyataan dari Alloh dalam Al-qur’an : قَالَ اللهُ تَعَالَى
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا
(21).وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. (Q.S. ar-rum : 21.)
Islam menjadikan pernikahan sebagai satu-satunya tempat pelepasan hajat berahi manusia terhadap lawan jenisnya. Lebih dari itu, pernikahan sanggup memberikan jaminan dari ancaman kehancuran moral dan sosial. Itulah sebabnya Islam selalu mendorong dan memberikan berbagai kemudahan bagi manusia untuk segera melaksanakan kewajiban suci itu. Janganlah ikut-ikutan budaya Barat yang sedang marak ini. Sebagai orang muslim jangan biarkan diri kita dan saudara2 kita terjerembab dalam fitnah pacaran ini. Janganlah kita keluar rumah dalam keadaan membuka aurat, tidak memakai jilbab atau malah memakai baju ketat yang membuat pria terfitnah dengan penampilannya. Janganlah kalian biarkan diri kita dan saudara-saudara bergaul bebas dengan lawan jenis.
Perhatikanlah قَالَ اللهُ تَعَالَى :
يَا أَيُّهَا النَّبِيُ وَكَانَ عَلَيْهِنَّ ّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْن فَلا يُؤْذَيْن
(59).اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًاَ
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.”Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. al-Ahzab: 59)
‘Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan’. (Q.S. At Tahriim: ayat 6).

Dari kenyataan-kenyataan diatas maka bisa disimpulkan tidak ada yang namanya pacaran ISLAMI. Bahkan dalam ISLAM tidak mengenal yang namanya pacaran. Karena ISLAM sangat melarang yang namanya kholwat. Baik melalui sms,telepon ataupun perantara kholwat lainya.
Wallohu A’lam.
Muklis Abu Dzar
NB: ada penambahan dan penyesuaian secukupnya (penyunting).
PACARAN
YANG ISLAMI, MUNGKINKAH ada?

Disadur dari majalah Al-FURQON. Muharrom 1430

Sebuah fitnah besar menimpa pemuda-pemudi generasi ISLAM pada zaman sekarang. Mereka terbiasa melakukan perbuatan yang dianggap wajar padahal termasuk maksiat di sisi Alloh . Perbuatan tersebut adalah “pacaran”, yaitu hubungan pranikah antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom. Biasanya hal ini dilakukan oleh sesama teman sekelas atau sesama rekan kerja atau yang lainnya. Sangat disayangkan, perbuatan keji ini telah menjamur di masyarakat kita. Apalagi sebagian besar stasiun televisi banyak menayangkan sinetron tentang pacaran di sekolah maupun di kantor. Tentu hal ini sangat merusak moral kaum muslimin. Namun, anehnya, orang tua merasa bangga kalau anak perempuannya memiliki seorang pacar yang sering mengajak kencan. Ada juga yang melakukan pacaran beralasan untuk ta’aruf (berkenalan). Padahal perbuatan ini merupakan dosa dan amat buruk akibatnya. Oleh sebab itu, mengingat perbuatan haram ini sudah begitu memasyarakat, kami memandang perlu untuk membahasnya pada kesempatan ini.

Pacaran dari Sudut Pandang Islam
Pacaran tidak lepas dari tindakan menerjang larangan-larangan Alloh . Fitnah ini bermula dari pandang-memandang dengan lawan jenis kemudian timbul rasa cinta di hati sebab itu, ada istilah “dari mata turun ke hati”kemudian berusaha ingin memilikinya, entah itu dengan cara kirim SMS atau surat cinta, telepon, catting atau yang lainnya. Setelah itu, terjadilah keinginan saling bertemu dan bertatap muka, menyepi, dan saling bersentuhan sambil mengungkapkan rasa cinta dan sayang. Semua perbuatan tersebut dilarang dalam Islam karena merupakan jembatan dan sarana menuju perbuatan yang lebih keji, yaitu zina. Bahkan, boleh dikatakan, perbuatan itu seluruhnya tidak lepas dari zina.
Perhatikanlah رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda : “Ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, akan diperolehnya hal itu, tidak bisa tidak. Kedua mata itu berzina, zinanya dengan memandang. Kedua telinga itu berzina, zinanya dengan mendengarkan. Lisan itu berzina, zinanya dengan berbicara. Tangan itu berzina, zinanya dengan memegang. Kaki itu berzina, zinanya dengan melangkah. dan berangan-angan sedangkan kemaluan yang membenarkan itu semua atau mendustakannya.”(H.R. Muslim: 2657, alBukhori: 6243)

Al-Imam an-Nawawi berkata: “Makna hadits di atas, pada anak Adam itu ditetapkan bagiannya dari zina. Di antara mereka ada yang melakukan zina secara hakiki dengan memasukkan farji (kemaluan)nya ke dalam farji yang haram. Ada yang zinanya secara majazi (kiasan) dengan memandang wanita yang haram, mendengar perbuatan zina dan perkara yang mengantarkan kepada zina, atau dengan sentuhan tangan di mana tangannya meraba wanita yang bukan mahromnya atau menciumnya, atau kakinya melangkah untuk menuju ke tempat berzina, atau melihat zina, atau menyentuh wanita yang bukan mahromnya, atau melakukan pembicaraan yang haram dengan wanita yang bukan mahromnya dan semisalnya, atau ia memikirkan dalam hatinya. Semuanya ini termasuk zina secara majazi.” (Syarah Shohih Muslim: 16/156157)
Sementara itu, hati berkeinginan. Adakah di antara mereka tatkala berpacaran dapat menjaga pandangan mata mereka dari melihat yang haram sedangkan memandang wanita ajnabiyyah (bukan mahrom) atau laki-laki ajnabi (bukan mahrom) termasuk perbuatan yang diharamkan?!
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda :
“Tidaklah seorang lak-laki bersepi-sepian dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) kecuali setan mejadi yang ketiganya"”.
[Hadits Riwayat At-Tirmidzi dalam Al-Fitan 2165, Ahmad 115]
Ta’aruf Dengan Pacaran, Bolehkah?
Banyak orang awam beranggapan bahwa pacaran adalah wasilah (sarana) untuk berta’aruf (berkenalan). Kata mereka, dengan berpacaran akan diketahui jati diri kedua ‘calon mempelai’ supaya nanti jika sudah menikah tidak kaget lagi dengan sikap keduanya dan bisa saling memahami karakter masingmasing. Demi Allah, tidaklah anggapan ini dilontarkan melainkan oleh orang-orang yang terbawa arus budaya Barat dan hatinya sudah terjangkiti bisikan setan/iblis. Tidakkah mereka menyadari bahwa yang namanya pacaran tentu tidak terlepas dari kholwat (berdua-duaan dengan lawan jenis) dan ikhtilath (laki-laki dan perempuan bercampur baur tanpa ada hijab/tabir penghalang)?! Padahal semua itu telah dilarang dalam Islam. Perhatikanlah tentang larangan tersebut sebagaimana tertuang dalam sabda رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : “Sekalikali tidak boleh seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali wanita itu bersama mahromnya.” (H.R. al-Bukhori: 1862, Muslim: 1338)
Barang siapa membantu seseorang yang berpacaran, membantu memenuhi keinginan mereka, membantu menyampaikan suratnya/pesannya pada pacar orang itu maka ia bisa disebut membantu perzinaan yang mereka lakukan. Dan barang siapa membantu perbuatan zina maka ia sama dengan pelaku zina tersebut. Oleh karena itu janganlah sekali-kali kalian membantu perbuatan mereka.
قَالَ اللهُ تَعَالَى :
“………Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”.( Q.S. Al-maidah : ayat 2)
Al-Hafizh Ibnu Hajar alAsqolaniy berkata: “Hadits ini menunjukkan bahwa larangan bercampur baur dengan wanita yang bukan mahrom adalah ijma’ (kesepakatan) para ulama.” (Fathul Bari: 4/100)
Oleh karena itu, kendati telah resmi melamar seorang wanita, seorang laki-laki tetap harus menjaga jangan sampai terjadi fitnah. Dengan diterima pinangannya itu tidak berarti ia bisa bebas berbicara dan bercanda dengan wanita yang akan diperistrinya, bebas surat-menyurat, bebas bertelepon, bebas berSMS, bebas chatting, atau bebas bercakap-cakap apa saja. Wanita tersebut masih tetap ajnabiyyah baginya hingga berlangsungnya akad nikah. Begitu juga dengan pasangan yang baru sebatas berta’aruf / nadhor juga disebut ajnabiyyah dan ajnabi. Lalu disebut apakah yg pacaran itu ?
Adakah Pacaran Islami?
Ada pula pemuda-pemudi aktivis organisasi Islam—yang katanya punya semangat terhadap Islam—disebabkan dangkalnya ilmu syar’i yang mereka miliki dan terpengaruh dengan budaya Barat yang sudah berkembang, mereka memunculkan istilah “pacaran islami” dalam pergaulan mereka. Mereka hendak tampil beda dengan pacaran-pacaran orang awam. Tidak ada saling sentuhan, tidak ada pegang-pegangan. Masing-masing menjaga diri. Kalaupun saling berbincang dan bertemu, yang menjadi pembicaraan hanyalah tentang Islam, tentang dakwah, saling mengingatkan untuk beramal, dan berdzikir kepada Alloh serta mengingatkan tentang akhirat, surga, dan neraka. Begitulah katanya! Ketahuilah, pacaran yang diembel-embeli Islam ala mereka tak ubahnya omong kosong belaka. Itu hanyalah makar iblis untuk menjerumuskan orang ke dalam neraka. Adakah mereka dapat menjaga pandangan mata dari melihat yang haram sedangkan memandang wanita ajnabiyyah atau lakilaki ajnabi termasuk perbuatan yang diharamkan?! Camkanlah
قَالَ اللهُ تَعَالَى :
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ قُلْ
(30).لِلْمُؤْمِنِينَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
(31)………يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
“Katakanlah (wahai Muhammad) kepada lakilaki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Dan katakanlah kepada wanitawanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka………” (Q.S. anNur : 30-31)
Tidak tahukah mereka bahwa wanita merupakan fitnah yang terbesar bagi lakilaki?
رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم bersabda: “Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnahnya wanita.” (H.R. al-Bukhori: 5096)
Segeralah Menikah Bila Sudah Mampu
Para pemuda / pemudiyang sudah berkemampuan lahir dan batin diperintahkan
agar segera menikah. Inilah solusi terbaik yang diberikan Islam karena dengan menikah seseorang akan terjaga jiwa dan agamanya. Akan tetapi, jika memang belum mampu maka hendaklah berpuasa, bukan berpacaran.
رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم bersabda: “Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu menikah maka segeralah menikah karena sesungguhnya menikah itu lebih menjaga kemaluan dan memelihara pandangan mata. Barang siapa yang belum mampu maka hendaklah berpuasa karena puasa menjadi benteng (dari gejolak berahi).”
(H.R. al-Bukhori: 5066)
Al-Imam Nawawi menjelaskan: “Yang dimaksud mampu menikah adalah mampu berkumpul dengan istri dan memiliki bekal untuk menikah.”
(Fathul Bari: 9/136)
Dengan menikah segala kebaikan akan datang. Itulah pernyataan dari Alloh dalam Al-qur’an : قَالَ اللهُ تَعَالَى
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا
(21).وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. (Q.S. ar-rum : 21.)
Islam menjadikan pernikahan sebagai satu-satunya tempat pelepasan hajat berahi manusia terhadap lawan jenisnya. Lebih dari itu, pernikahan sanggup memberikan jaminan dari ancaman kehancuran moral dan sosial. Itulah sebabnya Islam selalu mendorong dan memberikan berbagai kemudahan bagi manusia untuk segera melaksanakan kewajiban suci itu. Janganlah ikut-ikutan budaya Barat yang sedang marak ini. Sebagai orang muslim jangan biarkan diri kita dan saudara2 kita terjerembab dalam fitnah pacaran ini. Janganlah kita keluar rumah dalam keadaan membuka aurat, tidak memakai jilbab atau malah memakai baju ketat yang membuat pria terfitnah dengan penampilannya. Janganlah kalian biarkan diri kita dan saudara-saudara bergaul bebas dengan lawan jenis.
Perhatikanlah قَالَ اللهُ تَعَالَى :
يَا أَيُّهَا النَّبِيُ وَكَانَ عَلَيْهِنَّ ّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْن فَلا يُؤْذَيْن
(59).اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًاَ
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.”Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. al-Ahzab: 59)
‘Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan’. (Q.S. At Tahriim: ayat 6).

Dari kenyataan-kenyataan diatas maka bisa disimpulkan tidak ada yang namanya pacaran ISLAMI. Bahkan dalam ISLAM tidak mengenal yang namanya pacaran. Karena ISLAM sangat melarang yang namanya kholwat. Baik melalui sms,telepon ataupun perantara kholwat lainya.
Wallohu A’lam.
Muklis Abu Dzar
NB: ada penambahan dan penyesuaian secukupnya (penyunting).

Dikirim pada 20 Januari 2012 di Semua Tentang Cinta



PACARAN YANG ISLAMI, MUNGKINKAH ADA ????



Disadur dari majalah Al-FURQON. Muharrom 1430
Sebuah fitnah besar menimpa pemuda-pemudi generasi ISLAM pada zaman sekarang. Mereka terbiasa melakukan perbuatan yang dianggap wajar padahal termasuk maksiat di sisi Alloh . Perbuatan tersebut adalah “pacaran”, yaitu hubungan pranikah antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom. Biasanya hal ini dilakukan oleh sesama teman sekelas atau sesama rekan kerja atau yang lainnya. Sangat disayangkan, perbuatan keji ini telah menjamur di masyarakat kita. Apalagi sebagian besar stasiun televisi banyak menayangkan sinetron tentang pacaran di sekolah maupun di kantor. Tentu hal ini sangat merusak moral kaum muslimin. Namun, anehnya, orang tua merasa bangga kalau anak perempuannya memiliki seorang pacar yang sering mengajak kencan. Ada juga yang melakukan pacaran beralasan untuk ta’aruf (berkenalan). Padahal perbuatan ini merupakan dosa dan amat buruk akibatnya. Oleh sebab itu, mengingat perbuatan haram ini sudah begitu memasyarakat, kami memandang perlu untuk membahasnya pada kesempatan ini.
Pacaran dari Sudut Pandang Islam
Pacaran tidak lepas dari tindakan menerjang larangan-larangan Alloh . Fitnah ini bermula dari pandang-memandang dengan lawan jenis kemudian timbul rasa cinta di hati sebab itu, ada istilah “dari mata turun ke hati”kemudian berusaha ingin memilikinya, entah itu dengan cara kirim SMS atau surat cinta, telepon, catting atau yang lainnya. Setelah itu, terjadilah keinginan saling bertemu dan bertatap muka, menyepi, dan saling bersentuhan sambil mengungkapkan rasa cinta dan sayang. Semua perbuatan tersebut dilarang dalam Islam karena merupakan jembatan dan sarana menuju perbuatan yang lebih keji, yaitu zina. Bahkan, boleh dikatakan, perbuatan itu seluruhnya tidak lepas dari zina.
Perhatikanlah رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda : “Ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, akan diperolehnya hal itu, tidak bisa tidak. Kedua mata itu berzina, zinanya dengan memandang. Kedua telinga itu berzina, zinanya dengan mendengarkan. Lisan itu berzina, zinanya dengan berbicara. Tangan itu berzina, zinanya dengan memegang. Kaki itu berzina, zinanya dengan melangkah. dan berangan-angan sedangkan kemaluan yang membenarkan itu semua atau mendustakannya.”(H.R. Muslim: 2657, alBukhori: 6243)
Al-Imam an-Nawawi berkata: “Makna hadits di atas, pada anak Adam itu ditetapkan bagiannya dari zina. Di antara mereka ada yang
melakukan zina secara hakiki dengan memasukkan farji (kemaluan)nya ke dalam farji yang haram. Ada yang zinanya secara majazi (kiasan) dengan memandang wanita yang haram, mendengar perbuatan zina dan perkara yang mengantarkan kepada zina, atau dengan sentuhan tangan di mana tangannya meraba wanita yang bukan mahromnya atau menciumnya, atau kakinya melangkah untuk menuju ke tempat berzina, atau melihat zina, atau menyentuh wanita yang bukan mahromnya, atau melakukan pembicaraan yang haram dengan wanita yang bukan mahromnya dan semisalnya, atau ia memikirkan dalam hatinya. Semuanya ini termasuk zina secara majazi.” (Syarah Shohih Muslim: 16/156157)
Sementara itu, hati berkeinginan. Adakah di antara mereka tatkala berpacaran dapat menjaga pandangan mata mereka dari melihat yang haram sedangkan memandang wanita ajnabiyyah (bukan mahrom) atau laki-laki ajnabi (bukan mahrom) termasuk perbuatan yang diharamkan?!
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda :
“Tidaklah seorang lak-laki bersepi-sepian dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) kecuali setan mejadi yang ketiganya"”.
[Hadits Riwayat At-Tirmidzi dalam Al-Fitan 2165, Ahmad 115]
Ta’aruf Dengan Pacaran, Bolehkah?
Banyak orang awam beranggapan bahwa pacaran adalah wasilah (sarana) untuk berta’aruf (berkenalan). Kata mereka, dengan berpacaran akan diketahui jati diri kedua ‘calon mempelai’ supaya nanti jika sudah menikah tidak kaget lagi dengan sikap keduanya dan bisa saling memahami karakter masingmasing. Demi Allah, tidaklah anggapan ini dilontarkan melainkan oleh orang-orang yang terbawa arus budaya Barat dan hatinya sudah terjangkiti bisikan setan/iblis. Tidakkah mereka menyadari bahwa yang namanya pacaran tentu tidak terlepas dari kholwat (berdua-duaan dengan lawan jenis) dan ikhtilath (laki-laki dan perempuan bercampur baur tanpa ada hijab/tabir penghalang)?! Padahal semua itu telah dilarang dalam Islam. Perhatikanlah tentang larangan tersebut sebagaimana tertuang dalam sabda رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : “Sekalikali tidak boleh seorang laki-laki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali wanita itu bersama mahromnya.” (H.R. al-Bukhori: 1862, Muslim: 1338)
Barang siapa membantu seseorang yang berpacaran, membantu memenuhi keinginan mereka, membantu menyampaikan suratnya/pesannya pada pacar orang itu maka ia bisa disebut membantu perzinaan yang mereka lakukan. Dan barang siapa membantu perbuatan zina maka ia sama dengan pelaku zina tersebut. Oleh karena itu janganlah sekali-kali kalian membantu perbuatan mereka.
“………Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”.( Q.S. Al-maidah : ayat 2)
Al-Hafizh Ibnu Hajar alAsqolaniy berkata: “Hadits ini menunjukkan bahwa larangan bercampur baur dengan wanita yang bukan mahrom adalah ijma’ (kesepakatan) para ulama.” (Fathul Bari: 4/100)
Oleh karena itu, kendati telah resmi melamar seorang wanita, seorang laki-laki tetap harus menjaga jangan sampai terjadi fitnah. Dengan diterima pinangannya itu tidak berarti ia bisa bebas berbicara dan bercanda dengan wanita yang akan diperistrinya, bebas surat-menyurat, bebas bertelepon, bebas berSMS, bebas chatting, atau bebas bercakap-cakap apa saja. Wanita tersebut masih tetap ajnabiyyah baginya hingga berlangsungnya akad nikah. Begitu juga dengan pasangan yang baru sebatas berta’aruf / nadhor juga disebut ajnabiyyah dan ajnabi. Lalu disebut apakah yg pacaran itu ?
Adakah Pacaran Islami?
Ada pula pemuda-pemudi aktivis organisasi Islam—yang katanya punya semangat terhadap Islam—disebabkan dangkalnya ilmu syar’i yang mereka miliki dan terpengaruh dengan budaya Barat yang sudah berkembang, mereka memunculkan istilah “pacaran islami” dalam pergaulan mereka. Mereka hendak tampil beda dengan pacaran-pacaran orang awam. Tidak ada saling sentuhan, tidak ada pegang-pegangan. Masing-masing menjaga diri. Kalaupun saling berbincang dan bertemu, yang menjadi pembicaraan hanyalah tentang Islam, tentang dakwah, saling mengingatkan untuk beramal, dan berdzikir kepada Alloh serta mengingatkan tentang akhirat, surga, dan neraka. Begitulah katanya! Ketahuilah, pacaran yang diembel-embeli Islam ala mereka tak ubahnya omong kosong belaka. Itu hanyalah makar iblis untuk menjerumuskan orang ke dalam neraka. Adakah mereka dapat menjaga pandangan mata dari melihat yang haram sedangkan memandang wanita ajnabiyyah atau lakilaki ajnabi termasuk perbuatan yang diharamkan?! Camkanlah
قَالَ اللهُ تَعَالَى :
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ قُلْ
(30).لِلْمُؤْمِنِينَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
(31)………يَغْضُضْنَ مِنْ

أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

“Katakanlah (wahai Muhammad) kepada lakilaki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Dan katakanlah kepada wanitawanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka………” (Q.S. anNur : 30-31)
Tidak tahukah mereka bahwa wanita merupakan fitnah yang terbesar bagi lakilaki?
رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم bersabda: “Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnahnya wanita.” (H.R. al-Bukhori: 5096)
Segeralah Menikah Bila Sudah Mampu
Para pemuda / pemudiyang sudah berkemampuan lahir dan batin diperintahkan
agar segera menikah. Inilah solusi terbaik yang diberikan Islam karena dengan menikah seseorang akan terjaga jiwa dan agamanya. Akan tetapi, jika memang belum mampu maka hendaklah berpuasa, bukan berpacaran.
رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم bersabda: “Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu menikah maka segeralah menikah karena sesungguhnya menikah itu lebih menjaga kemaluan dan memelihara pandangan mata. Barang siapa yang belum mampu maka hendaklah berpuasa karena puasa menjadi benteng (dari gejolak berahi).”
(H.R. al-Bukhori: 5066)
Al-Imam Nawawi menjelaskan: “Yang dimaksud mampu menikah adalah mampu berkumpul dengan istri dan memiliki bekal untuk menikah.”
(Fathul Bari: 9/136) Dengan menikah segala kebaikan akan datang. Itulah pernyataan dari Alloh dalam Al-qur’an : قَالَ اللهُ تَعَالَى
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا
(21).وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu
kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. (Q.S. ar-rum : 21.)
Islam menjadikan pernikahan sebagai satu-satunya tempat pelepasan hajat berahi manusia terhadap lawan jenisnya. Lebih dari itu, pernikahan sanggup memberikan jaminan dari ancaman kehancuran moral dan sosial. Itulah sebabnya Islam selalu mendorong dan memberikan berbagai kemudahan bagi manusia untuk segera melaksanakan kewajiban suci itu. Janganlah ikut-ikutan budaya Barat yang sedang marak ini. Sebagai orang muslim jangan biarkan diri kita dan saudara2 kita terjerembab dalam fitnah pacaran ini. Janganlah kita keluar rumah dalam keadaan membuka aurat, tidak memakai jilbab atau malah memakai baju ketat yang membuat pria terfitnah dengan penampilannya. Janganlah kalian biarkan diri kita dan saudara-saudara bergaul bebas dengan lawan jenis.
Perhatikanlah قَالَ اللهُ تَعَالَى :
يَا أَيُّهَا النَّبِيُ وَكَانَ عَلَيْهِنَّ ّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْن فَلا يُؤْذَيْن
(59).اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًاَ
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.”Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. al-Ahzab: 59)
‘Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan’. (Q.S. At Tahriim: ayat 6).
Dari kenyataan-kenyataan diatas maka bisa disimpulkan tidak ada yang namanya pacaran ISLAMI. Bahkan dalam ISLAM tidak mengenal yang namanya pacaran. Karena ISLAM sangat melarang yang namanya kholwat. Baik melalui sms,telepon ataupun perantara kholwat lainya.
Wallohu A’lam.
Muklis Abu Dzar
NB: ada penambahan dan penyesuaian secukupnya (penyunting).(poniran).

Dikirim pada 11 Oktober 2011 di Semua Tentang Cinta
21 Mar


Sikap Pertengahan Dalam Agama
Syaikh Ibnu Utsaimin
Pertanyaan:
Apakah yang dimaksud dengan al-wasath (sikap pertengahan) di dalam agama? Mohon penjelasan yang rinci dan memuaskan dari yang mulia, semoga Allah membalas jasa anda terhadap Islam dan kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan.

Jawaban:
Pengertian al-wasath dalam agama adalah seseorang tidak boleh berlaku ghuluw (berlebih-lebihan) di dalamnya sehingga melampaui batasan yang telah ditentukan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan tidak pula taqshir, teledor di dalamnya sehingga mengurangi batasan yang telah ditentukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala .

Al-wasath di dalam agama artinya berpegang teguh dengan sirah (perjalanan hidup) Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam . Ghuluw artinya melampaui batasnya sedangkan taqshir artinya tidak mencapainya (teledor).

Sebagai contoh untuk hal tersebut, ada seorang laki-laki yang berkata, "Aku ingin melakukan shalat malam dan tidak akan tidur sepanjang tahun karena shalat merupakan ibadah yang paling utama dan aku ingin menghidupkan seluruh malam dengan shalat. Maka kita katakan, bahwa ini adalah sikap seorang yang berbuat ghuluw di dalam agama dan ini tidak benar. Dan, hal semacam ini pernah terjadi pada masa Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam , seperti suatu ketika berkumpullah beberapa orang, lalu salah seorang di antara mereka berkata, "Aku akan shalat malam terus dan tidak akan tidur." Yang satu lagi berkata, "Aku akan berpuasa terus dan tidak akan berbuka." Sedangkan orang ketiganya berkata, "Aku tidak akan menikahi wanita manapun." Lantas hal itu sampai ke telinga Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam , maka bersabdalah beliau,

"Ada apakah gerangan suatu kaum yang mengatakan begini dan begitu padahal aku ini juga melakukan shalat, tidur, berpuasa, ber-buka dan menikahi wanita; barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka dia tidak termasuk ke dalam golonganku." (HR. Al-Bukhari, An-Nikah (5063); Muslim, An-Nikah (1401)).

Mereka itu telah bertindak ghuluw di dalam agama dan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam telah berlepas diri dari (tindakan) mereka tersebut karena mereka telah membenci (tidak suka) terhadap sunnah beliau, yakni berpuasa, berbuka, melakukan shalat malam, tidur dan menikahi wanita.

Sedangkan orang yang bertindak taqshir (teledor), adalah orang yang mengatakan, "Aku tidak butuh dengan amalan sunnah. Karena aku tidak akan melakukan hal-hal yang sunnah, dan aku hanya melakukan yang wajib-wajib saja." Padahal orang semacam ini, bisa jadi juga teledor di dalam melakukan hal-hal yang wajib tersebut. Inilah orang yang teledor itu, sementara orang yang bersikap pertengahan adalah orang yang berjalan sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam dan Khulafa’ur Rasyidin setelah beliau.

Contoh lainnya, ada tiga orang yang di depan mata mereka berdiri seorang yang fasiq, lalu berkatalah salah seorang di antara mereka, "Aku tidak akan mengucapkan salam kepada si fasiq ini, tidak akan menegur, akan menjauh darinya dan tidak akan berbicara dengannya."

Orang kedua berkata, "Aku tetap mau berjalan dengan si fasiq ini, mengucapkan salam, melempar senyum, mengundangnya dan memenuhi undangannya. Pokoknya, bagiku dia sama seperti orang yang shalih lainnya."

Sedangkan orang ketiga berkata, "Aku tidak suka terhadap si fasik ini karena kefasikannya tersebut dan aku menyukainya karena keimanannya. Aku tidak akan melakukan hajr (isolir/tidak menegur) terhadapnya kecuali bila hal itu menjadi sebab dia berubah. Jika hajr tersebut tidak dapat menjadi sebab dia berubah bahkan semakin menambah kefasikannya, maka aku tidak akan melakukan hajr terhadapnya.

Maka, kita katakan: orang pertama tersebut sudah bertindak melampaui batas lagi ghuluw, orang kedua juga bertindak melampaui batas lagi teledor sedangkan orang ketigalah yang bertindak pertengahan (wasath) tersebut.

Demikian pulalah kita katakan pada seluruh ibadah dan mu’amalat. Di dalam hal tersebut manusia terbagi kepada kelompok yang teledor, bertindak ghuluw dan pertengahan.

Contoh kasus lainnya, ada seorang suami yang menjadi "tawanan’ isterinya; mau diperintah olehnya kemana yang dia mau, tidak mencegahnya berbuat dosa dan tidak pula menganjurkannya agar berperilaku mulia. Pokoknya, isterinya telah menguasai pikirannya sehingga isterinya tersebutlah yang menjadi pemimpin rumah tangga.
Ada lagi seorang suami yang sangat kasar dan sombong dan tidak ambil pusing terhadap isterinya, tidak mempedulikanya seakan dia tidak lebih sebagai pembantu. Lalu ada lagi seorang suami yang memperlakukan isterinya dengan cara yang adil sebagaimana perintah Allah dan RasulNya. Allah berfirman,

"Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf." (Al-Baqarah:228).

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

"Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah, (sebab) jika dia membenci satu akhlak darinya, dia pasti rela dengan akh-laqnya yang lain." (Muslim, ar-Radla’ (1469)).

Orang terakhir inilah yang bertindak pertengahan, sedangkan orang pertama sudah bertindak ghuluw di dalam memperlakukan isterinya sedangkan yang satu lagi sudah bertindak teledor. Jadi, perbandingkanlah terhadap amal-amal dan ibadah-ibadah yang lainnya.
Rujukan:
Al-Majmu’ Ats-Tsamin, Juz.I, h.39 dari fatwa Syaikh Ibn Utsaimin.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2, penerbit Darul Haq.

Kategori: Bantahan Syubhat
Sumber: http://fatwa-ulama.com

Dibuat oleh SalafiDB http://salafidb.googlepages.com


Dikirim pada 21 Maret 2011 di FATWA ULAMA
21 Mar



APAKAH SALAFI ITU ?

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani


Sesungguhnya kata "As-Salaf" sudah lazim dalam terminologi bahasa Arab maupun syariat Islam. Adapun yang menjadi bahasan kita kali ini adalah aspek syari’atnya. Dalam riwayat yang shahih, ketika menjelang wafat, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda kepada Sayidah Fatimah radyillahu ’anha :

"Artinya : Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, sebaik-baik "As-Salaf" bagimu adalah Aku".

Dalam kenyataannya di kalangan para ulama sering menggunakan istilah "As-Salaf". Satu contoh penggunaan "As-Salaf" yang biasa mereka pakai dalam bentuk syair untuk menumpas bid’ah :

"Dan setiap kebaikan itu terdapat dalam mengikuti orang-orang Salaf".

"Dan setiap kejelekan itu terdapat dalam perkara baru yang diada-adakan orang Khalaf".

Namun ada sebagian orang yang mengaku berilmu, mengingkari nisbat (penyandaran diri) pada istillah Salaf karena mereka menyangka bahwa hal tersebut tidak ada asalnya. Mereka berkata : "Seorang muslim tidak boleh mengatakan "saya seorang Salafi". Secara tidak langsung mereka beranggapan bahwa seorang muslim tidak boleh mengikuti Salafus Shalih baik dalam hal aqidah, ibadah ataupun ahlaq".

Tidak diragukan lagi bahwa pengingkaran mereka ini, (kalau begitu maksudnya) membawa konsekwensi untuk berlepas diri dari Islam yang benar yang dipegang para Salafus Shalih yang dipimpin Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam :

"Artinya : Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian sesudahnya, kemudian sesudahnya". (Hadits Shahih Riwayat Bukhari, Muslim).

Maka tidak boleh seorang muslim berlepas diri (bara’) dari penyandaran kepada Salafus Shalih. Sedangkan kalau seorang muslim melepaskan diri dari penyandaran apapun selain Salafus Shalih, tidak akan mungkin seorang ahli ilmupun menisbatkannya kepada kekafiran atau kefasikan.

Orang yang mengingkari istilah ini, bukankah dia juga menyandarkan diri pada suatu madzhab, baik secara akidah atau fikih ..?. Bisa jadi ia seorang Asy’ari, Maturidi, Ahli Hadits, Hanafi, Syafi’i, Maliki atau Hambali semata yang masih masuk dalam sebutan Ahlu Sunnah wal Jama’ah.

Padahal orang-orang yang bersandar kepada madzhab Asy’ari dan pengikut madzhab yang empat adalah bersandar kepada pribadi-pribadi yang tidak maksum. Walau ada juga ulama di kalangan mereka yang benar. Mengapa penisbatan-penisbatan kepada pribadi-pribadi yang tidak maksum ini tidak diingkari ..?

Adapun orang yang berintisab kepada Salafus Shalih, dia menyandarkan diri kepada ishmah (kemaksuman/terjaga dari kesalahan) secara umum. Rasul telah mendiskripsikan tanda-tanda Firqah Najiah yaitu komitmennya dalam memegang sunnah Nabi dan para sahabatnya. Dengan demikian siapa yang berpegang dengan manhaj Salafus Shalih maka yakinlah dia berada atas petunjuk Allah ’Azza wa Jalla.

Salafiyah merupakan predikat yang akan memuliakan dan memudahkan jalan menuju "Firqah Najiyah". Dan hal itu tidak akan didapatkan bagi orang yang menisbatkan kepada nisbat apapun selainnya. Sebab nisbat kepada selain Salafiyah tidak akan terlepas dari dua perkara :

Pertama.
Menisbatkan diri kepada pribadi yang tidak maksum.

Kedua.
Menisbatkan diri kepada orang-orang yang mengikuti manhaj pribadi yang tidak maksum.

Jadi tidak terjaga dari kesalahan, dan ini berbeda dengan Ishmah para shahabat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, yang mana Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan supaya kita berpegang teguh terhadap sunnahnya dan sunnah para sahabat setelahnya.

Kita tetap terus dan senantiasa menyerukan agar pemahaman kita terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah selaras dengan manhaj para sahabat, sehingga tetap dalam naungan Ishmah (terjaga dari kesalahan) dan tidak melenceng maupun menyimpang dengan pemahaman tertentu yang tanpa pondasi dari Al-Kitab dan As-Sunnah.

Mengapa sandaran terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah belum cukup ..?

Sebabnya kembali kepada dua hal, yaitu hubungannya dengan dalil syar’i dan fenomena Jama’ah Islamiyah yang ada.

Berkenan Dengan Sebab Pertama :

Kita dapati dalam nash-nash yang berupa perintah untuk menta’’ati hal lain disamping Al-Kitab dan As-Sunnah sebagaimana dalam firman Allah :

"Artinya : Dan taatilah Allah, taatilah Rasul dan Ulil Amri diantara kalian".
[An-Nisaa : 59].

Jika ada Waliyul Amri yang dibaiat kaum Muslimin maka menjadi wajib ditaati seperti keharusan taat terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah. Walau terkadang muncul kesalahan dari dirinya dan bawahannya. Taat kepadanya tetap wajib untuk menepis akibat buruk dari perbedaan pendapat dengan menjunjung tinggi syarat yang sudah dikenal yaitu :

"Artinya : Tidak ada ketaatan kepada mahluk di dalam bemaksiat kepada Al-Khalik". [Lihat As-Shahihah No. 179]

"Artinya : Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan mereka berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan dia ke dalam Jahannan dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali". [An-Nisaa : 115]

Allah Maha Tinggi dan jauh dari main-main. Tidak disangkal lagi, penyebutan Sabilil Mu’minin (Jalan kaum mukminin) pasti mengandung hikmah dan manfa’at yang besar. Ayat itu membuktikan adanya kewajiban penting yaitu agar ittiba’ kita terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah harus sesuai dengan pemahaman generasi Islam yang pertama (generasi sahabat). Inilah yang diserukan dan ditekankan oleh dakwah Salafiyah di dalam inti dakwah dan manhaj tarbiyahnya.

Sesungguhnya Dakwah Salafiyah benar-benar akan menyatukan umat. Sedangkan dakwah lainnya hanya akan mencabik-cabiknya. Allah berfirman :

"Artinya : Dan hendaklah kamu bersama-sama orang-orang yang benar". [At-Taubah : 119]

Siapa saja yang memisahkan antara Al-Kitab dan As-Sunnah dengan As-Salafus Shalih bukanlah seorang yang benar selama-lamanya.

Adapun Berkenan Dengan Sebab Kedua :

Bahwa kelompok-kelompok dan golongan-golongan (umat Islam) sekarang ini sama sekali tidak memperhatikan untuk mengikuti jalan kaum mukminin yang telah disinggung ayat di atas dan dipertegas oleh beberapa hadits.

Diantaranya hadits tentang firqah yang berjumlah tujuh puluh tiga golongan, semua masuk neraka kecuali satu. Rasul mendeskripsikannya sebagai :

"Dia (golongan itu) adalah yang berada di atas pijakanku dan para sahabatku hari ini".

Hadits ini senada dengan ayat yang menyitir tentang jalan kaum mukminin. Di antara hadits yang juga senada maknanya adalah, hadits Irbadl bin Sariyah, yang di dalamnya memuat :

"Artinya : Pegangilah sunnahku dan sunnah Khulafair Rasyidin sepeninggalku".

Jadi di sana ada dua sunnah yang harus di ikuti : sunnah Rasul dan sunnah Khulafaur Rasyidin.

Menjadi keharusan atas kita -generasi mutaakhirin- untuk merujuk kepada Al-Kitab dan As-Sunnah dan jalan kaum mukminin. Kita tidak boleh berkata : "Kami mandiri dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah tanpa petunjuk Salafus As-Shalih".

Demikian juga kita harus memiliki nama yang membedakan antara yang haq dan batil di jaman ini. Belum cukup kalau kita hanya mengucapkan :"Saya seorang muslim (saja) atau bermadzhab Islam. Sebab semua firqah juga mengaku demikian baik Syiah, Ibadhiyyah (salah satu firqah dalam Khawarij), Ahmadiyyah dan yang lain. Apa yang membedakan kita dengan mereka ..?

Kalau kita berkata : Saya seorang muslim yang memegangi Al-Kitab dan As-Sunnah. ini juga belum memadai. Karena firqah-firqah sesat juga mengklaim ittiba’ terhadap keduanya.

Tidak syak lagi, nama yang jelas, terang dan membedakan dari kelompok sempalan adalah ungkapan : "Saya seorang muslim yang konsisten dengan Al-Kitab dan As-Sunnah serta bermanhaj Salaf", atau disingkat "Saya Salafi".

Kita harus yakin, bersandar kepada Al-Kitab dan As-Sunnah saja, tanpa manhaj Salaf yang berperan sebagai penjelas dalam masalah metode pemahaman, pemikiran, ilmu, amal, dakwah, dan jihad, belumlah cukup.

Kita paham para sahabat tidak berta’ashub terhadap madzhab atau individu tertentu. Tidak ada dari mereka yang disebut-sebut sebagai Bakri, Umari, Utsmani atau Alawi (pengikut Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali). Bahkan bila seorang di antara mereka bisa bertanya kepada Abu Bakar, Umar atau Abu Hurairah maka bertanyalah ia. Sebab mereka meyakini bahwa tidak boleh memurnikan ittiba’ kecuali kepada satu orang saja yaitu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, yang tidak berkata dengan kemauan nafsunya, ucapannya tiada lain wahyu yang diwahyukan.

Taruhlah misalnya kita terima bantahan para pengkritik itu, yaitu kita hanya menyebut diri sebagai muslimin saja tanpa penyandaran kepada manhaj Salaf ; padahal manhaj Salaf merupakan nisbat yang mulia dan benar. Lalu apakah mereka (pengkritik) akan terbebas dari penamaan diri dengan nama-nama golongan madzhab atau nama-nama tarekat mereka .? Padahal sebutan itu tidak syar’i dan salah ..!?.

Allah adalah Dzat Maha pemberi petunjuk menuju jalan lurus. Wallahu al-Musta’in.

Demikianlah jawaban kami. Istilah Salaf bukan menunjukkan sikap fanatik atau ta’assub pada kelompok tertentu, tetapi menunjukkan pada komitmennya untuk mengikuti Manhaj Salafus Shalih dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Wallahu Waliyyut-Taufiq.

[Disalin dari Majalah Al-Ashalah edisi 9/Th.II/15 Sya’ban 1414H, Majalah As-Sunnah Edisi 09/Th III/1419H-1999M, Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183]

Dikirim pada 21 Maret 2011 di MANHAJ AS-SALAFIYAH


"Biografi Imam-Imam Hadits"


Bografi Imam Ad Darimi


Pertumbuhan beliau

Nama: Beliau adalah Abdullah bin Abdurrahman bin al Fadhl bin Bahram bin Abdush Shamad.

Kuniyah beliau: Abu Muhammad

Nasab beliau:

1. At Tamimi; adalah nisbah yang ditujukan kepada satu qabilah Tamim.

2. Ad Darimi; adalah nisbah kepada Darim bin Malik dari kalangan at Tamimi. Dengan nisbah ini

beliau terkenal.

3. As Samarqandi; yaitu nisbah kepada negri tempat tinggal beliau

Tanggal lahir:

Ia di lahirkan pada taun 181 H, sebagaimana yang di terangkan oleh imam Ad Darimi sendiri,

beliau menuturkan; ‘aku dilahirkan pada tahun meninggalnya Abdullah bin al Mubarak, yaitu

tahun seratus delapan puluh satu.

Ada juga yang berpendapat bahwa beliau lahir pada tahun seratus delapan puluh dua hijriah.

Aktifitas beliau dalam menimba ilmu

Allah menganugerahkan kepada iama Ad Darimi kecerdasan, pikiran yang tajam dan daya

hafalan yang sangat kuat, teristimewa dalam menghafal hadits. Beliau berjumpa dengan para

masyayikh dan mendengar ilmu dari mereka. Akan tetapi sampai sekarang kami tidak

mendapatkan secara pasti sejarah beliau dalam memulai menuntut ilmu

Beliau adalah sosok yang tawadldlu’ dalam hal pengambilan ilmu, mendengar hadits dari

kibarul ulama dan shigharul ulama, sampai-sampai dia mendengar dari sekelompok ahli

hadits dari kalangan teman sejawatnya, akan tetapi dia jua seorang yang sangat selektif dan

berhati-hati, karena dia selalu mendengar hadits dari orang-orang yang terpercaya dan
tsiqah, dan dia tidak meriwayatkan hadits dari setiap orang.

Rihlah beliau

Rihlah dalam rangka menuntut ilmu merupakan bagian yang sangat mencolok dan sifat yang

paling menonjol dari tabiat para ahlul hadits, karena terpencarnya para pengusung sunnah dan atsar di berbagai belahan negri islam yang sangat luas. Maka Imam ad Darimi pun tidak

ketinggalan dengan meniti jalan pakar disiplin ilmu ini.

Diantara negri yang pernah beliau singgahi adalah;

1. Khurasan

2. Iraq

3. Baghdad

4. Kufah

5. Wasith

6. Bashrah

7. Syam; Damasqus, Himash dan Shur.

8. Jazirah

9. Hijaz; Makkah dan Madinah.

Guru-guru beliau

Guru-guru imam Ad Darimi yang telah beliau riwayatkan haditsnya adalah;

1. Yazid bin Harun

2. Ya’la bin ‘Ubaid

3. Ja’far bin ‘Aun

4. Basyr bin ‘Umar az Zahrani

5. ‘Ubaidullah bin Abdul Hamid al Hanafi

6. Hasyim bin al Qasim

7. ‘Utsman bin ‘Umar bin Faris

8. Sa’id bin ‘Amir adl Dluba’i

9. Abu ‘Ashim

10. ‘Ubaidullah bin Musa

11. Abu al Mughirah al Khaulani

12. Abu al Mushir al Ghassani

13. Muhammad bin Yusuf al Firyabi

14. Abu Nu’aim

15. Khalifah bin Khayyath

16. Ahmad bin Hmabal

17. Yahya bin Ma’in

18. Ali bin Al Madini

Dan yang lainnya

Murid-murid beliau

Sebagaimana kebiasaan ahlul hadits, ketika mereka mengetahui bahwa seorang alim

mengetahui banyak hadits, maka mereka berbondong-bondong mendatangi alim tersebut,

guna menimba ilmu yang ada pada diri si ‘alim. Begitu juga dengan Imam Ad Darimi, ketika

para penuntut ilmu mengetahui kapabaliti dalam bidang hadits yang dimiliki imam, maka

berbondong-bondong penuntut ilmu mendatanginya, diantara mereka itu adalah;

1. Imam Muslim bin Hajaj

2. Imam Abu Daud

3. Imam Abu ‘Isa At Tirmidzi

4. ‘Abd bin Humaid

5. Raja` bin Murji

6. Al Hasan bin Ash Shabbah al Bazzar

7. Muhammad bin Basysyar (Bundar)

8. Muhammad bin Yahya

9. Baqi bin Makhlad

10. Abu Zur’ah

11. Abu Hatim

12. Shalih bin Muhammad Jazzarah

13. Ja’far al Firyabi

14. Muhammad bin An Nadlr al Jarudi

Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Persaksian para ulama terhadap beliau

1. Imam Ahmad menuturkan; (Ad Darimi) imam.

2. Muhammad bin Basysyar Bundar menuturkan; penghafal dunia ada empat: Abu Zur’ah di

ar Ray, Muslim di an Nasaiburi, Abdullah bin Abdurrahman di Samarqandi dan Muhamad

bin Ismail di Bukhara”.

3. Abu Sa’id al Asyaj menuturkan; ‘Abdullah bin Abdirrahman adalah imam kami.’

4. Muhammad bin Abdullah al Makhrami berkata; ‘wahai penduduk Khurasan, selagi

Abdullah bin Abdurrahman di tengah-tengah kalian, maka janganlah kalian menyibukkan

diri dengan selain dirinya.’

5. Raja` bin Murji menuturkan; ‘aku telah melihat Ibnu Hambal, Ishaq bin Rahuyah, Ibnu al

Madini dan Asy Syadzakuni, tetapi aku tidak pernah melihat orang yang lebih hafizh dari

Abdullah.

6. Abu Hatim berkata; Muhammad bin Isma’il adalah orang yang paling berilmu yang

memasuki Iraq, Muhammad bin Yahya adalah orang yang paling berilmu yang berada di

Khurasan pada hari ini, Muhammad bin Aslam adalah orang yang paling wara’ di antara

mereka, dan Abdullah bin Abdurrahman orang yang paling tsabit diantara mereka.

7. Ad Daruquthni menuturkan; ‘ tsiqatun masyhur.

8. Muhammad bin Ibrahim bin Manshur as Sairazi menuturkan; “Abdullah adalah puncak

kecerdasan dan konsistensi beragama, di antara orang yang menjadi teladan dalam

kesantunan, keilmuan, hafalan, ibadah dan zuhud”.

Hasil karya beliau

1. Sunan ad Darimi.

2. Tsulutsiyat (kitab hadits)

3. al Jami’

4. Tafsir

Wafatnya beliau

Beliau meninggal dunia pada hari Kamis bertepatan dengan hari tarwiyyah, 8 Dzulhidjah,

setelah ashar tahun 255 H, dalam usia 75 tahun. Dan dikuburkan keesokan harinya, Jumat

(hari Arafah).

Biografi Imam Malik

Pertumbuhan beliau

Nama: Mâlik bin Anas bin Mâlik bin Abi Amir bin Amru bin Al Harits bin ghailân bin Hasyat bin

Amru bin Harits.

Kunyah beliau: Abu Adbillah

Nasab beliau:

1. Al Ashbuhi; adalah nisbah yang di tujukan kepada dzi ashbuh, dari Humair

2. Al Madani; nisbah kepada Madinah, negri tempat beliau tinggal.

Tanggal lahir:

Beliau dilahirkan di Madinah tahun 93 H, bertepatan dengan tahun meninggalnya sahabat

yang mulia Anas bin Malik. Ibunya mengandung dia selama tiga tahun.

Sifat-sifat imam Malik:

Beliau adalah sosok yang tinggi besar, bermata biru, botak, berjenggot lebat, rambut dan

jenggotnya putih, tidak memakai semir rambut, dan beliau menipiskan kumisnya. Beliau

senang mengenakan pakaian bersih, tipis dan putih, sebagaimana beliaupun sering

bergonta-ganti pakaian. Memakai serban, dan meletakkan bagian sorban yang berlebih di

bawah dagunya.

Aktifitas beliau dalam menimba ilmu

Imam Malik tumbuh ditengah-tengah ilmu pengetahuan, hidup dilingkungan keluarga yang

mencintai ilmu, dikota Darul Hijrah, sumber mata air As Sunah dan kota rujukan para alim

ulama. Di usia yang masih sangat belia, beliau telah menghapal Al Qur`an, menghapal Sunah

Rasulullah, menghadiri majlis para ulama dan berguru kepada salah seorang ulama besar

pada masanya yaitu Abdurrahman Bin Hurmuz.

Kakek dan ayahnya adalah ulama hadits terpandang di Madinah. Maka semenjak kecil, Imam

Malik tidak meninggalkan Madinah untuk mencari ilmu. Ia merasa Madinah adalah kota

dengan sumber ilmu yang berlimpah dengan kehadiran ulama-ulama besar.

Karena keluarganya ulama ahli hadits, maka Imam Malik pun menekuni pelajaran hadits

kepada ayah dan paman-pamannya. Disamping itu beliau pernah juga berguru kepada para

ulama terkenal lainnya. Dalam usia yang terbilang muda, Imam Malik telah menguasai banyak disiplin ilmu. Kecintaannya kepada ilmu menjadikan hampir seluruh hidupnya di salurkan untuk memperoleh ilmu.

Rihlah beliau

Meskipun Imam Malik memiliki kelebihan dalam hafalan dan kekuatan pengetahuannya, akan

tetapi beliau tidak mengadakan rihlah ilmiah dalam rangka mencari hadits, karena beliau

beranggapan cukup dengan ilmu yang ada di sekitar Hijaz. Meski beliau tidak pernah

mengadakan perjalanan ilmiyyah, tetapi beliau telah menyangdang gelar seorang ulama, yang

dapat memberikan fatwa dalam permasalahan ummat, dan beliau pun membentuk satu majlis

di masjid Nabawi pada saat beliau menginjak dua puluh satu tahun, dan pada saat itu guru

beliau Nafi’ hiudp. Semua itu agar dapat mentransfer pengetahuannya kepada kaum muslimin serta kaum muslimin dapat mengambil manfaat dari pelajaran yang di sampaikan sang imam

Guru-guru beliau

Imam Malik berjumpa dengan sekelompok kalangan tabi’in yang telah menimba ilmu dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan yang paling menonjol dari mereka adalah Nafi’ mantan budak Abdullah bin ‘Umar. Malik berkata; ‘Nafi’ telah menyebarkan ilmu yang banyak dari Ibnu ‘Umar, lebih banyak dari apa yang telah disebarkan oleh anak-anak Ibnu Umar,’

Guru-guru imam Malik, selain Nafi’, yang telah beliau riwayatkan haditsnya adalah;

1. Abu Az Zanad Abdullah bin Zakwan

2. Hisyam bin ‘Urwah bin Az Zubair

3. Yahya bin Sa’id Al Anshari

4. Abdullah bin Dinar

5. Zaid bin Aslam, mantan budak Umar

6. Muhammad bin Muslim bin Syihab AzZuhri

7. Abdullah bin Abi Bakr bin Hazm

8. Sa’id bin Abi Sa’id Al Maqburi

9. Sami mantan budak Abu Bakar

Murid-murid beliau

Banyak sekali para penuntut ilmu meriwayatkan hadits dari imam Malik ketika beliau masih

muda belia. Disini kita kategorikan beberapa kelompok yang meriwayatkan hadits dari beliau, diantaranya;

Guru-guru beliau yang meriwayatkan dari imam Malik, diantaranya;

1. Muhammad bin Muslim bin Syihab Az Zahrani

2. Yahya bin SA’id Al Anshari

3. Paman beliau, Abu Sahl Nafi’ bin Malik

Dari kalangan teman sejawat beliau adalah;

1. Ma’mar bin Rasyid

2. Abdul Malik bin Juraij

3. Imam Abu Hanifah, An Nu’man bin Tsabit

4. Syu’bah bin al Hajaj

5. Sufyan bin Sa’id Ats Tsauri

6. Al Laits bin Sa’d

Orang-orang yang meriwayatkan dari imam Malik setelah mereka adalah;

1. Yahya Bin Sa’id Al Qaththan

2. Abdullah bin Al Mubarak

3. Abdurrahman bin Mahdi

4. Waki’ bin al Jarrah

5. Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i.

Sedangkan yang meriwayatkan Al Muwaththa` banyak sekali, diantaranya;

1. Abdullah bin Yusuf At Tunisi

2. Abdullah bin Maslamah Al Qa’nabi

3. Abdullah bin Wahb al Mishri

4. Yahya bin Yahya Al Laitsi

5. Abu Mush’ab Az Zuhri


Persaksian para ulama terhadap beliau

1. Imam malik menerangkan tentang dirinya; ‘aku tidak berfatwa sehingga tujuh puluh orang

bersaksi bahwa diriku ahli dalam masalah tersebut.

2. Sufyan bin ‘Uyainah menuturkan; “Malik merupakan orang alim penduduk Hijaz, dan dia

merupakan hujjah pada masanya.”

3. Muhammad bin idris asy syafi`i menuturkan: “Malik adalah pengajarku, dan darinya aku

menimba ilmu.” Dan dia juga menuturkan; ” apabila ulama di sebutkan, maka Malik

adalah bintang.”

4. Muhammad bin idris asy syafi`i menuturkan: “saya tidak mengetahui kitab ilmu yang lebih

banyak benarnya dibanding kitab Imam Malik” dan imam Syafi’I berkata: “tidak ada

diatas bumi ini kitab setelah kitabullah yang lebih sahih dari kitab Imam Malik”.

5. Abdurrahman bin Mahdi menuturkan; “aku tidak akan mengedepankan seseorang dalam

masalah shahihnya sebuah hadits dari pada Malik.”

6. Al Auza’I apabila menyebut Imam Malik, dia berkata; ” ‘Alimul ‘ulama, dan mufti

haramain.”
7. Yahya bin Sa’id al Qaththan menuturkan; “Malik merupakan imam yang patut untuk di

contoh.”

8. Yahya bin Ma’in menuturkan; ” malik merupakan hujjah Allah terhadap makhluk-Nya.”

Hasil karya beliau

Muwaththa` merupakan hasil karya imam Malik yang paling spektakuler, dan disana masih

ada beberapa karya beliau yang tersebar, diantaranya;

1. Risalah fi al qadar

2. Risalah fi an nujum wa manazili al qamar

3. Risalah fi al aqdliyyah

4. Risalah ila abi Ghassan Muhammad bin Mutharrif

5. Risalah ila al Laits bin Sa’d fi ijma’i ahli al madinah

6. Juz`un fi at tafsir

7. Kitabu as sirr

8. Risalatu ila Ar Rasyid.

Wafatnya beliau

Beliau meninggal dunia pada malam hari tanggal 14 safar 179 H pada usia yang ke 85 tahun

dan dimakamkan di Baqî` Madinah munawwarah.


Biografi Imam Ahmad


Pertumbuhan beliau

Nama: A Ahmad bin Muhamad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan

bin Abdullah bin Anas bin ‘Auf bin Qasithi bin Marin bin Syaiban bin Dzuhl bin Tsa’labah bin

Uqbah bin Sha’ab bin Ali bin Bakar bin Wail.

Kuniyah: Abu Abdillah

Nasab beliau: Bapak dan ibu beliau adalah orang arab, keduanya anak Syaiban bin Dzuhl bin

Tsa’labah, seorang arab asli. Bahkan nasab beliau bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Nazar.

Kelahiran beliau:

Imam Ahmad dilahirkan di kota Baghdad. Ada yang berpendapat bahwa di Marwa, kemudian

di bawa ke Baghdad ketika beliau masih dalam penyusuan. Hari lahir beliau pada tanggal dua puluh Rabi’ul awwal tahun 164 hijriah.

Ayah Imam Ahmad dan kakeknya meninggal ketika beliau lahir, sehingga semenjak kecil ia

hanya mendapatkan pengawasan dan kasih sayang ibunya saja. Jadi, beliau tidak hanya

sama dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah nasab saja, akan tetapi beliau juga sama dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah yatim.

Meskipun imam Ahmad tidak mewaritsi harta dari ayah dan kakeknya, tetapi beliau telah

mewaritsi dari kakeknya kemulian nasab dan kedudukan, sedang dari ayahnya telah

mewaritsi kecintaan terhadap jihad dan keberanian. Ayah beliau, Muhammad bin Hambal

menemui ajalnya ketika sedang berada di medan jihad, sedang kakeknya, Hambal bin Hilal

adalah seorang penguasa daerah Sarkhas, pada saat kekhilafahan Umawiyyah.

Aktifitas beliau dalam menimba ilmu

Permulaan imam Ahmad dalam rangka menuntut ilmu pada tahun 179 A hijriah, pada saat itu

beliau berusia empat belas tahu, beliau menuturkan tentang dirinya; ‘ ketika aku masih

anak-anak, aku modar-mandir menghadiri sekolah menulis, kemudian aku bolak-balik datang

keperpustakaan A ketika aku berumur empat belas tahun.’

Beliau mendapatkan pendidikannya yang pertama di kota Baghdad. Saat itu, kota Bagdad

telah menjadi pusat peradaban dunia Islam, yang penuh dengan beragam jenis ilmu

pengetahuan. Di sana tinggal para qari’, ahli hadits, para sufi, ahli bahasa, filosof, dan

sebagainya.

Setamatnya menghafal Alquran dan mempelajari ilmu-ilmu bahasa Arab di al-Kuttab saat

berumur 14 tahun, beliau melanjutkan pendidikannya ke ad-Diwan. Beliau terus menuntut ilmu

dengan penuh semangat yang tinggi dan tidak mudah putus asa.

Keteguhan dalam mencari ilmu telah mengantarkan imam Ahmad menjadi ulama besar dan

disegani, baik dari kalangan masyarakat awwam, terpelajar maupun dari kalangan penguasa.

Dalam rihlah ilmiyyah yang beliau jalani, ada satu pelajaran yang patut kita conth, setiap kali

bekalnya habis, beliau selalu mendermakan dirinya untuk bekerja guna melanjutkan

perjalanannya. Ia tidak mau menerima uang ataupun materi lainnya selain dari hasil kerja

keras dan hasil keringatnya sendiri.

Rihlah beliau

Kecintaannya kepada ilmu begitu luar biasa. Karenanya, setiap kali

mendengar ada ulama terkenal di suatu tempat, ia rela menempuh perjalanan jauh dan waktu lama hanya untuk menimba ilmu dari sang ulama. Kecintaan kepada ilmu jua yang menjadikan beliau rela tak menikah dalam usia muda. Beliau baru menikah setelah usia 40 tahun.

Diantara negri yang beliau kunjungi adalah:

1. Bashrah; beliau kunjungi pada tahun 186 hijriah, kedua kalinya beliau

mengunjungi pada tahun 190 hijriah, yang ketiga beliau kunjungi pada

tahun 194 hijriah, dan yang keempat beliau mengunjungi pada tahun 200

hijriah.

2. Kufah, beliau mengunjunginya pada tahun 183 hijriah, dan keluar darinya

pada tahun yang sama, dan ini merupakan rihlah beliau yang pertama kali

setelah keluar dari Baghdad.

3. Makkah; beliau memasukinya pada tahun 187 hijriah, di sana berjumpa

dengan imam Syafi’i. kemudian beliau mengunjunginya lagi pada tahun
196 hijriah, dan beliau juga pernah tinggal di Makkah pada tahun 197,
pada tahun itu bertemu dengan Abdurrazzaq. Kemudian pada tahun 199
hijriah beliau keluar dari Makkah.

4. Yaman; beliau meninggalkan Makkah menuju Yaman dengan berjalan kaki

pada tahun 199 hijriah. Tinggal di depan pintu Ibrahim bin ‘Uqail selama

dua hari dan dapat menulis hadits dari Adurrazzaq.

5. Tharsus; Abdullah menceritakan; ‘ ayahku keluar menuju Tharsus dengan

berjalan kaki.

6. Wasith; Imam Ahmad menuturkan tentang perjalanan beliau; ‘ aku pernah

tinggal di tempat Yahya bin Sa’id Al Qaththan, kemudian keluar menuju

Wasith.’

7. Ar Riqqah; Imam Ahmad menuturkan; ‘Di Riqqah aku tidak menemukan

seseorang yang lebih utama ketimbang Fayyadl bin Muhammad bin Sinan.’

8. Ibadan; beliau mengunjunginya pada tahun 186 hijriah, di sana tinggal

Abu Ar Rabi’ dan beliau dapat menulis hadits darinya.

9. Mesir; beliau berjanji kepada imam Syafi’I untuk mengunjunginya di Mesir,

akan tetapi dirham tidak menopangnya mengunjungi imam Syafi’I di sana.

Guru-guru beliau

Semenjak kecil imam Ahmad memulai untuk belajar, banyak sekali guru-guru beliau,

diantaranya;

1. Husyaim bin Basyir, imam Ahmad berguru kepadanya selama lima tahun di kota

Baghdad.

2. Sufyan bin Uyainah

3. Ibrahim bin Sa’ad

4. Yahya bin Sa’id al QaththAn

5. WalAd bin Muslim

6. Ismail bin ‘Ulaiyah

7. Al Imam Asy Syafi’i

8. Al Qadli Abu Yusuf

9. Ali bin Hasyim bin al Barid

10. Mu’tamar bin Sulaiman

11. Waki’ bin Al Jarrah

12. ‘Amru bin Muhamad bin Ukh asy Syura

13. Ibnu Numair

14. Abu Bakar Bin Iyas

15. Muhamad bin Ubaid ath Thanafusi

16. Yahya bin Abi Zaidah

17. Abdul Rahman bin Mahdi

18. Yazid bin Harun

19. Abdurrazzaq bin Hammam Ash Shan’ani

20. Muhammad bin Ja’far

Dan masih banyak lagi guru-guru beliau.

Murid-murid beliau

Tidak hanya ahli hadits dari kalangan murid-murid beliau saja yang meriwayatkan dari beliau,

tetapi guru-guru beliau dan ulama-ulama besar pada masanyapun tidak ketinggalan untuk

meriwayatkan dari beliau. Dengan ini ada klasifikasi tersendiri dalam kategori murid beliau,

diantaranya;

Guru beliau yang meriwayatkan hadits dari beliau;

1. Abdurrazzaq

2. Abdurrahman bin Mahdi

3. Waki’ bin Al Jarrah

4. Al Imam Asy Syafi’i

5. Yahya bin Adam

6. Al Hasan bin Musa al Asy-yab

Sedangkan dari ulama-ulama besar pada masanya yang meriwayatkan dari beliau adalah;

1. Al Imam Al Bukhari

2. Al Imam Muslim bin Hajjaj

3. Al Imam Abu Daud

4. Al Imam At Tirmidzi

5. Al Imam Ibnu Majah

6. Al Imam An Nasa`i

Dan murid-murid beliau yang meriwayatkan dari beliau adalah;

1. Ali bin Al Madini

2. Yahya bin Ma’in

3. Dahim Asy Syami

4. Ahmad bin Abi Al Hawari

5. Ahmad bin Shalih Al Mishri

Persaksian para ulama terhadap beliau

1. Qutaibah menuturkan; sebaik-baik penduduk pada zaman kita adalah Ibnu Al Mubarak,

kemudian pemuda ini (Ahmad bin Hambal), dan apabila kamu melihat seseorang

mencintai Ahmad, maka ketahuilah bahwa dia adalah pengikut sunnah. Sekiranya dia

berbarengan dengan masa Ats Tsauri dan al Auza’I serta Al Laits, niscaya Ahmad akan

lebih di dahulukan ketimbang mereka. Ketika di tanyakan kepada Qutaibah; apakah
anda menggabungkan Ahmad dalam kategori Tabi’in? maka dia menjawab; bahkan
kibaru at tabi’in. dan dia berkata; ‘kalau bukan karena Ats Tsauri, wara’ akan sirnah.
Dan kalau bukan karena Ahmad, dien akan mati.’

2. Asy Syafi’I menuturkan; aku melihat seorang pemuda di Baghdad, apabila dia berkata;

‘telah meriwayatkan kepada kami,’ maka orang-orang semuanya berkata; ‘dia benar’.

Maka ditanyakanlah kepadanya; ’siapakah dia?’ dia menjawab; ‘Ahmad bin Hambal.’

3. Ali bin Al Madini menuturkan; sesungguhnya Allah memuliakan agama ini dengan

perantaraan Abu Bakar pada saat timbul fitnah murtad, dan dengan perantaraan Ahmad

bin Hambal pada saat fitnah Al qur`an makhluk.’

4. Abu ‘Ubaidah menuturkan; ‘ilmu kembali kepada empat orang’ kemudian dia

menyebutkan Ahmad bin Hambal, dan dia berkata; ‘dia adalah orang yang paling fakih

diantara mereka.’

5. Abu Ja’far An Nufaili menuturkan; ‘Ahmad bin Hambal termasuk dari tokoh agama.’

6. Yahya bin Ma’in menuturkan; ‘Aku tidak pernah melihat seseorang yang meriwayatkan

hadits karena Allah kecuali tiga orang; Ya’la bin ‘Ubaid, Al Qa’nabi, Ahmad bin Hambal.’

7. Ibrahim berkata; ‘orang ‘alim pada zamannya adalah Sa’id bin Al Musayyab, Sufyan Ats

Tsaur di zamannya, Ahmad bin Hambal di zamannya.’

8. Ibnu bi Hatim menuturkan; ‘Aku bertanya kepada ayahku tentang ‘ali bin Al Madini dan

Ahmad bin Hambal, siapa diantara kedunya yang paling hafizh?’ maka ayahku

menjawab; ‘ keduanya didalam hafalan saling mendekat, tetapi Ahmad adalah yang

paling fakih.’

9. Imam Syafi’i masuk menemui Imam Ahmad dan berkata, ? “Engkau lebih tahu tentang

hadits dan perawi-perawinya. Jika ada hadits shahih (yang engkau tahu), maka beri

tahulah aku. Insya Allah, jika (perawinya) dari Kufah atau Syam, aku akan pergi

mendatanginya jika memang shahih. Ini menunjukkan kesempurnaan agama dan akal

Imam Syafi’i karena mau mengembalikan ilmu kepada ahlinya.

Hasil karya beliau

Diantara hasil karya Imam Ahmad adalah sebagai berikut :

1. Al Musnad

2. Al ‘Ilal

3. An Nasikh wa al Mansukh

4. Az Zuhd

5. Al Asyribah

6. Al Iman

7. Al Fadla`il

8. Al Fara`idl

9. Al Manasik

10. Tha’atu ar Rasul

11. Al Muqaddam wa al mu`akhkhar

12. Jawwabaatu al qur`an

13. Haditsu Syu’bah

14. Nafyu at tasybih

15. Al Imamah

16. Kitabu al fitan

17. Kitabu fadla`ili ahli al bait

18. Musnad ahli al bait

19. Al asmaa` wa al kunaa

20. Kitabu at tarikh

Masih ada lagi buku-buku yang di nisbahkan kepada imam Ahmad, diantaranya;

1. At tafsir. Adz Dzahabi berpendapat bahwa buku tersebut tidak ada.

2. Ar Risalah fi ash shalah

3. Ar Radd ‘ala al jahmiyyah.

Ada lagi beberapa hasil karya beliau yang di kumpulkan oleh Abu Bakar al Khallal,

diantaranya;

1. Kitabu al ‘illal

2. Kitabu al ‘ilmi

3. Kitabu as sunnah.

Wafatnya beliau

Pada permulaan hari Jumat tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun 241, beliau menghadap kepada

rabbnya menjemput ajalnya di Baghdad. Kaum muslimin bersedih dengan kepergian beliau.

Tak sedikit mereka yang turut mengantar jenazah beliau sampai beratusan ribu orang. Ada

yang mengatakan 700 ribu orang, ada pula yang mengatakan 800 ribu orang, bahkan ada

yang mengatakan sampai satu juta lebih orang yang menghadirinya. Semuanya menunjukkan

bahwa sangat banyaknya mereka yang hadir pada saat itu demi menunjukkan penghormatan

dan kecintaan mereka kepada beliau.

Biografi Imam Ibnu Majah

Pertumbuhan beliau

Nama: Muhammad bin Yazid bin Mâjah al Qazwînî.

Nama yang lebih familiar adalah Ibnu Mâjah yaitu laqab bapaknya (Yazîd). Bukan nama kakek

beliau.

Kuniyah beliau: Abu ‘Abdullâh

Nasab beliau:

1. Ar Rib’I; merupakan nisbah wala` kepada Rabi’ah, yaitu satu kabilah arab.

2. al Qazwînî adalah nisbah kepada Qazwîn yaitu nisbah kepada salah satu kota yang

terkenal di kawasan ‘Iraq.

Tanggal lahir:

Ibnu Majah menuturkan tentang dirinya; “aku dilahirkan pada tahun 209 hijirah. Referensi-

referensi yang ada tidak memberikan ketetapan yang pasti, di mana Ibnu Majah di lahirkan,

akan tetapi masa pertumbuhan beliau beradaA di Qazwin. Maka bisa jadi Qazwin merupakan

tempat tinggal beliau.

Aktifitas beliau dalam menimba ilmu

Ibnu majah memulai aktifitas menuntut ilmunya di negri tempat tinggalnya Qazwin. Akan tetapi

sekali lagi referensi-referensi yang ada sementara tidak menyebutkan kapan beliau memulai

menuntut ilmunya. Di Qazwin beliau berguru kepada Ali bin Muhammad at Thanafusi, dia

adalah seorang yang tsiqah, berwibawa dan banyak meriwayatkan hadits. Maka Ibnu Majah

tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia memperbanyak mendengar dan berguru

kepadanya. Ath Thanafusi meninggal pada tahun 233 hijriah, ketik

Dikirim pada 15 Maret 2011 di HADIST


Adakah Bid’ah Hasanah?
Syaikh Ibnu Utsaimin
Pertanyaan:
Apa pengertian bid’ah dan apa kriterianya? Adakah bid’ah hasanah? Lalu apa makna sabda Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam ,
"Barangsiapa yang menempuh kebiasaan yang baik di dalam Islam..." [1]

Jawaban:
Pengertian bid’ah secara syar’i intinya adalah beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang tidak disyari’atkan Allah. Bisa juga anda mengatakan bahwa bid’ah adalah beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang tidak ditunjukkan oleh Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam dan tidak pula oleh para Khulafaur Rasyidin. Definisi pertama disimpulkan dari firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala ,
"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah."(Asy-Syura: 21).
Sedangkan definisi kedua disimpulkan dari sabda Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam ,
"Hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah-sunnah itu dengan geraham, dan hendaklah kalian menjauhi perkara-perkara baru yang diada-adakan."[2]

Jadi, setiap yang beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang tidak disyari’atkan Allah atau dengan sesuatu yang tidak ditunjukkan oleh Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam dan Khulafa’’ur Rasyidin, berarti ia pela-ku bid’ah, baik ibadah itu berkaitan dengan Asma’ Allah dan sifat-sifatNya ataupun yang berhubungan dengan hukum-hukum dan syari’at-syari’atNya. Adapun perkara-perkara biasa yang mengi-kuti kebiasaan dan tradisi, maka tidak disebut bid’ah dalam segi agama walaupun disebut bid’ah secara bahasa. Jadi yang demiki-an ini bukan bid’ah dalam agama dan tidak termasuk hal yang diperingatkan oleh Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam . Di dalam agama tidak ada yang disebut bid’ah hasanah. Adapun sunnah hasanah adalah perbuatan yang sesuai dengan syari’at, dan hal ini mencakup; seseorang yang memulai melakukan sunnah atau memulai melakukan suatu amal yang diperintahkan atau kembali melakukannya setelah meninggalkannya atau melakukan sesuatu yang memang disunnahkan sebagai perantara pelaksanaan ibadah yang diperintah-kan. Yang demikian ini ada tiga kategori:
Pertama: Artinya adalah sunnah secara mutlak, yakni yang memulai suatu amal yang diperintahkan. Inilah sebab munculnya hadits tersebut, di mana Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam menganjurkan untuk bersedekah kepada orang-orang yang datang kepada beliau, karena mereka saat itu sedang dalam kondisi sangat kesulitan, lalu beliau menganjurkan untuk bersedekah. Kemudian datang seorang laki-laki Anshar dengan membawa sekantong perak yang cukup berat di tangannya, lalu ia meletakkannya di kediaman Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam , kemudian Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
"Barangsiapa yang melakukan sunnah yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang-orang yang melakukannya."[3]

Laki-laki tersebut adalah yang melakukan sunnah karena memulai melakukan amal tersebut, bukan berarti memulai membuat amalan baru.
Kedua: Sunnah yang ditinggalkan kemudian seseorang melakukannya dan menghidupkannya. Yang demikian ini disebut melakukan sunnah yang artinya menghidupkannya, tapi bukan berarti membuat amalan baru yang berasal dari dirinya sendiri.
Ketiga: Melakukan sesuatu sebagai perantara pelaksanaan perintah yang disyari’atkan, seperti membangun sekolah, mence-tak buku agama dan sebagainya. Yang demikian ini bukan berarti beribadah dengan amalan tersebut, akan tetapi amalan tersebut sebagai perantara untuk melaksanakan perintah yang terkait.
Semua itu termasuk dalam cakupan sabda Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam ,
"Barangsiapa yang melakukan sunnah yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang-orang yang melakukannya."[4]

Tentang masalah ini telah dibahas secara luas di kesempatan lain.

Sumber:
Al-Majmu’ Ats-Tsamin, juz 1, hal. 29-30, syaikh Ibnu Utsaimin.
Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2, penerbit Darul Haq.
[1] HR. Muslim dalam Az-Zakah (1017), dan dalam Al-’’Ilm (1017).
[2] HR. Abu Dawud dalam As-Sunnah (4607). Ibnu Majah dalam Al-Muqaddimah (42).
[3] HR. Muslim dalam Az-Zakah (1017).
[4] HR. Muslim dalam Az-Zakah dan Al-’Ilm (1017).


Dikirim pada 15 Maret 2011 di BID’AH ITU SESAT
15 Mar


PACARAN YANG ISLAMI, ADAKAH?

Pacaran, setiap kali kita mendengarnya akan terlintas dibenak kita sepasang anak manusia yang tengah dimabuk cinta dan dilanda asmara, saling mengungkapkan rasa sayang serta rindu. Lalu kenapa harus dipermasalahkan? Bukankah "ada pacaran islami" tanpa harus melanggar batasan-batasan syariat?

CINTA, FITRAH ANAK MANUSIA

Manusia diciptakan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala dengan membawa fitrah (insting) untuk mencintai lawan jenisnya. sebagaimana firman-Nya, artinya,
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu Wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga)." (QS. Âli-’Imrân: 14).
Berkata Imam Qurthubi, "Allah memulai dengan wanita karena kebanyakan manusia menginginkannya, juga karena mereka merupakan jerat-jerat setan yang menjadi fitnah bagi kaum laki-laki, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam, "Tiadalah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita." (HR. Bukhârî dan Muslim).
Oleh karena itu, wanita adalah fitnah terbesar dibanding yang lainnya. (Lihat Tafsîr al Qurthubî 2/20). Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam pun, sebagai manusia, tak luput dari rasa cinta terhadap wanita. Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda, "Disenangkan kepadaku dari urusan dunia wewangian dan wanita." (HR. Ahmad dan selainnya dengan sanad hasan).
Karena cinta merupakan fitrah manusia, maka Allah menjadikan wanita sebagai perhiasan dunia dan nikmat yang dijanjikan bagi orang-orang beriman di surga dengan bidadarinya.
Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda, "Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita yang shalihah." (HR. Muslim).
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, artinya, "Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik." (QS. Ar-Rahmân: 70).
Namun, Islam sebagai agama paripurna para rasul, tidak membiarkan fitnah itu mengembara tanpa batas, Islam telah mengatur dengan tegas bagaimana menyalurkan cinta, juga bagaimana batas pergaulan antara dua insan lawan jenis sebelum nikah, agar semuanya tetap berada dalam koridor etika dan norma yang sesuai dengan syari’at.

ETIKA PERGAULAN LAWAN JENIS DALAM ISLAM

1. Menundukan Pandangan terhadap Lawan Jenis
Allah memerintahkan kaum laki-laki untuk menundukan pandangannya, sebagaimana firman-Nya, artinya, "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya." (QS. An-Nûr: 30).
Sebagaimana hal ini juga diperintahkan kepada wanita beriman, Allah berfirman, artinya, "Dan katakanlah kepada wanita yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluan-nya." (QS. An-Nûr: 31).

2. Menutup Aurat
Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, "Dan janganlah mereka menampakan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya." (QS. An-Nûr: 31).
Juga firman-Nya, artinya, "Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Ahzâb: 59).

3. Adanya Pembatas Antara Laki-laki dengan Wanita
Seseorang yang memiliki keperluan terhadap lawan jenisnya, harus menyampaikannya dari balik tabir pembatas. Sebagaimana firman-Nya, artinya, "Dan apabila kalian meminta sesuatu kepada mereka (para wanita) maka mintalah dari balik hijab." (QS. Al-Ahzâb: 53).

4. Tidak Berdua-duaan dengan Lawan Jenis
Dari Ibnu ’Abbâs Radhiyallahu ‘Anhu berkata, "Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda, "Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita kecuali wanita itu bersama mahramnya." (HR. Bukhârî 9/330, Muslim 1341).
Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam juga bersabda, "Janganlah salah seorang dari kalian berdua-duaan dengan seorang wanita, karena setan akan menjadi yang ketiganya." (HR. Ahmad dan At-Tirmidzî dengan sanad shahih).

5. Tidak Mendayukan Ucapan
Seorang wanita dilarang mendayukan ucapan saat berbicara kepada selain suami. Firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala, artinya, "Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik." (QS. Al-Ahzâb: 32).
Berkata Imam Ibnu Katsîr—rahimahullâh, "Ini adalah beberapa etika yang diperintahkan oleh Allah kepada para istri Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam serta para wanita Mukminah lainnya, yaitu hendaklah dia kalau berbicara dengan orang lain tanpa suara merdu, dalam artian janganlah seorang wanita berbicara dengan orang lain sebagaimana dia berbicara dengan suaminya." (Tafsîr Ibnu Katsîr: 3/530). \

6. Tidak Menyentuh Lawan Jenis
Dari Ma’qil bin Yasâr t berkata, "Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda, "Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi itu masih lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya." (HR. Thabrânî dalam Mu’jam al Kabîr: 20/174/386).
Berkata Syaikh Al-Albânî—rahimahullâh, "Dalam hadits ini terdapat ancaman keras terhadap orang-orang yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya." (Ash-Shohîhah: 1/448).
Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam tidak pernah menyentuh wanita meskipun dalam saat-saat penting seperti membaiat dan lain-lain. Dari ’Aisyah berkata, "Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat." (HR. Bukhârî 4891).
Inilah sebagian etika pergaulan laki-laki dengan wanita selain mahram, yang mana, apabila seseorang melanggar semuanya atau sebagiannya saja akan menjadi dosa zina baginya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam, "Sesungguhnya Allah menetapkan untuk anak adam bagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya. zina mata dengan memandang, zina lisan dengan berbicara, sedangkan jiwa berkeinginan serta berangan-angan, lalu farji yang akan membenarkan atau mendustakan semuanya." (HR. Bukhârî dan Muslim).
Padahal Allah Subhaanahu wa Ta’ala telah melarang perbuatan zina dan segala sesuatu yang bisa mendekati perzinaan. (Lihat Hirâsatul Fadhîlah oleh Syaikh Bakr Abu Zaid, hal. 94-98). Sebagaimana firman-Nya, artinya, "Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isrâ’: 32).

Hukum Pacaran

Setelah memerhatikan ayat dan hadits di atas, maka tidak diragukan lagi bahwa pacaran itu haram, karena beberapa sebab berikut:
1. Orang yang sedang pacaran tidak mungkin menundukan pandangannya terhadap kekasihnya. Awal munculnya
rasa cinta itu pun adalah dari seringnya mata memandang kepadanya.
2. Orang yang sedang pacaran tidak akan bisa menjaga hijab.
3. orang yang sedang pacaran biasanya sering berdua-duaan dengan kekasihnya, baik di dalam rumah atau di
luar rumah
4. Wanita akan bersikap manja dan mendayukan suaranya saat bersama kekasihnya
5. Pacaran identik dengan saling menyentuh antara laki-laki dengan wanita, meskipun itu hanya jabat tangan.
6. Orang yang sedang pacaran, bisa dipastikan selalu membayangkan orang yang dicintainya.
Perhatikan kembali etika pergaulan dengan lawan jenis dalam Islam yang telah kami sebutkan di atas. Berapa poin pelanggaran yang dilakukan oleh orang pacaran? Dalam kamus pacaran, hal-hal tersebut adalah lumrah dilakukan, padahal satu hal saja cukup untuk mengharamkan pacaran, lalu bagaimana kalau semuanya?

SYUBHAT DAN JAWABANNYA

Sebenarnya, keharaman pacaran lebih jelas daripada matahari di siang bolong. Namun begitu, masih ada yang berusaha menolaknya walaupun dengan dalil yang sangat rapuh, serapuh rumah laba-laba Di antara syubhat itu adalah:
Syubhat pertama: Tidak bisa dipukul rata bahwa pacaran itu haram, karena bisa saja orang pacaran yang Islami, tanpa melanggar syariat.
Tanggapan: Istilah "Pacaran Islami" itu cuma ada dalam khayalan, dan tidak pernah ada wujudnya. Anggaplah dia bisa menghindari khalwat (berduaan), menyentuh serta menutup aurat, tapi tetap tidak akan bisa menghindari dari saling memandang. Atau paling tidak membayangkan dan memikirkan kekasihnya. Yang mana hal itu sudah cukup mengharamkan pacaran.
Syubhat kedua: Orang sebelum memasuki dunia pernikahan, butuh untuk mengenal dahulu calon pasangan hidupnya, baik sisi fisik maupun karakter, yang mana hal itu tidak akan bisa dilakukan tanpa pacaran, karena bagaimanapun juga kegagalan sebelum menikah akan jauh lebih ringan daripada kalau terjadi setelah nikah.
Tanggapan: Memang, mengenal fisik dan karakter calon istri maupun suami merupakan suatu hal yang dibutuhkan orang sebelum memasuki biduk pernikahan, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari, juga tidak terkesan membeli kucing dalam karung. Namun, tujuan ini tidak bisa menghalalkan sesuatu yang haram. Ditambah lagi, bahwa orang yang sedang jatuh cinta akan berusaha menampakkan segala yang baik dengan menutupi kekurangannya di hadapan kekasihnya. Juga orang yang sedang jatuh cinta akan menjadi buta dan tuli terhadap perbuatan kekasihnya, sehingga akan melihat semua yang dilakukannya adalah kebaikan tanpa cacat. (Lihat Faidhul Qodîr oleh Imam Al-Munâwî: 3/454).


Dikirim pada 15 Maret 2011 di Semua Tentang Cinta


Hukum Mengucapkan "Shadaqallahul ’azhim" ketika selesai membaca Al-Qur’an
Syaikh Ibnu Baz

Pertanyaan:
Saya sering mendengar, bahwa mengucapkan "shadaqallahul ’azhim" ketika selesai membaca Al-Qur’an adalah perbuatan bid’ah. Namun sebagian orang yang mengatakan bahwa itu boleh, mereka berdalih dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala , "Katakanlah: ’Benarlah (apa yang difirmankan) Allah’." (Ali Imran: 95). Kemudian dari itu, sebagian orang terpelajar mengatakan kepada saya, bahwa apabila Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam hendak menghentikan bacaan Al-Qur’an seseorang, beliau mengatakan, "cukup" dan beliau tidak mengatakan, "shadaqallahul ’azhim." Pertanyaan saya: Apakah ucapan "shadaqallahul ’azhim" dibolehkan setelah selesai membaca Al-Qur’anul Karim. Saya mohon perkenan Syaikh menjelaskannya.

Jawaban:
Mayoritas orang terbiasa mengucapkan "shadaqallahul ’azhim" ketika selesai membaca Al-Qur’anul Karim, padahal ini tidak ada asalnya, maka tidak boleh dibiasakan, bahkan menurut kaidah syar’iyah hal ini termasuk bid’ah bila yang mengucap-kannya berkeyakinan bahwa hal ini sunnah. Maka hendaknya ditinggalkan dan tidak membiasakannya karena tidak adanya dalil yang menunjukkannya. Adapun firman Allah, "Katakanlah, ’Benarlah (apa yang difirmankan) Allah’." (Ali Imran: 95) bukan mengenai masalah ini, tapi merupakan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menjelaskan kepada manusia bahwa apa yang difirmankan Allah itu benar, yaitu yang disebutkan di dalam kitab-kitabNya yang agung, yakni Taurat dan lain-lainnya, dan bahwa Allah itu Maha-benar dalam ucapanNya terhadap para hambaNya di dalam KitabNya yang agung, Al-Qur’an. Tapi ayat ini bukan dalil yang menunjukkan sunnahnya mengucapkan "shadaqallah" setelah selesai membaca Al-Qur’an atau membaca beberapa ayatnya atau membaca salah satu suratnya, karena hal ini tidak pernah ditetapkan dan tidak pernah dikenal dari Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam dan tidak pula dari para sahabat beliau -rodhiallaahu’anhu-.

Ketika Ibnu Mas’ud -rodhiallaahu’anhu- membacakan awal-awal surat An-Nisa di hadapan Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam , saat bacaannya sampai pada ayat,‏

"Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)." (An-Nisa’: 41).

Beliau berkata kepada Ibnu Mas’ud, "Cukup", Ibnu Mas’ud menceritakan, "Lalu aku menoleh kepada beliau, ternyata kedua matanya meneteskan air mata." [1]Maksudnya, bahwa beliau menangis saat disebutkannya kedudukan yang agung itu pada Hari Kiamat kelak, yaitu sebagaimana yang disebutkan dalam ayat tadi, "Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu. (Hai Muhammad) sebagai saksi atas mereka." (An-Nisa’: 41). Yaitu terhadap umat beliau. Dan sejauh yang kami ketahui, tidak ada seorang ahlul ilmi pun yang menukil dari Ibnu Mas’ud -rodhiallaahu’anhu- bahwa ia mengucapkan "shadaqallahul ’azhim" ketika Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan, "Cukup". Maksudnya, bahwa mengakhiri bacaan Al-Qur’an dengan ucapan "shadaqallahul ’azhim" tidak ada asalnya dalam syari’at yang suci. Tapi jika seseorang melakukannya sekali-sekali karena kebutuhan, maka tidak apa-apa.


Dikirim pada 15 Maret 2011 di BID’AH ITU SESAT
12 Mar

SAHABAT SEJATI
Oleh: Abdullah Zaen

Alhamdulillahi wahdah, wash shalatu was salamu ala man la nabiyya ba’dah

Rebutan klaim sobat sejati

A. “Kriiiiing….kriiiiing…kriiiing”, dering hp membuat Adi terpaksa bangun dari tidurnya. “uhh.. siapa sich pagi-pagi buta gini ganggu orang saja, mana musim dingin lagi!”, keluh si Adi sambil melihat layer hpnya. Ternyata Budi sobat karibnya. “na”am…”, jawab Adi dengan suara serak orang yang bangun tidur. “Assalamu’alaikum, dah bangunbelum? Dah masuk waktu subuh nich!”, sambung si Budi membuka pembicaraan. Sambil melihat jam siAdi menjawab, “oh ya, jazaakallah khaira, antum emang sobat sejatiku kawan…,”.

B. “Hai Di, ada film baru nich, seru bangets! Mau nonton gak”? kata si Toni kepada
si Andi teman akrabnya, saat istirahat kuliah. “wah.. boleh juga tuch, film apa
sich ? gue jadi penasaran!” jawab si Andi. “Entar aja ente liat aja sendiri,
pokoknya di jamin seru dech!,” balas si Toni bikin penasaran. “Okelah entar ane
ke kamar ente ya… ente benar-benar sobat sejatiku!,” sambil masuk lokalnya
kembali.

Dari penggalan dua cerita di atas para pelakunya mengklaim kawanya adalah “sobat sejati”, tetapi manakah yang sebenarnya bias di sebut sebagai sobat sejati? Mungkin tulisan di bawah ini bias sedikit menggambarkan seperti apakah yang disebut sobat sejati itu, dan seperti apakah sibat yang tidak sejati itu!

Sahabat merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi seorang manusia

Orang arab sering berkata, “ Al-insan madaniyyun bith thab’i”, alias: “manusia itu adalah makhluk social”. Betul, manusia dalam kehidupan sehari hari membutuhkan interaksi dengan manusia lainya. Meskipun manusia itu hidupnya jauh dari keramaian.

Berhubung dengan tabiat manusia yang demikian itu, Islam tidak menghalangi manusia untuk menyalurkan insting kemanusiaanya. Islam hanya memberikan rambu-rambu (norma-norma) agar seorang manusia itu tidak keluar dari jalur syariat saat berinteraksi dengan sesamanya.

Dalam menyampaikan norma-norma itu Islam menggunakan berbagai macam cara. Diantaranya adalah dengan cara membandingkan antara teman yang baik dengan teman yang buruk, sebagaimana sabda RasulullahShallallahu ’alaihi wa sallam :

perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk, bagaikan penjual minyak wangi dan tukan besi. Penjual minyk wangi, jika ia tidak menghadiahkan minyak wangi, maka engkau akan beli darinya, atau paling tidak engkau akan ketularan harumnya. Sedangkan tukang besi, jika bajumu tidak terbakar akibat terkena percikan api yang ada di tungku besinya, setidak-tidaknya engkau ( akan keluar keluar dari tempat kerjanya ) dalam keadaan bau asap”. ( HR. Bukhari dan Muslim, dengan redaksi Muslim dan hadits Abu Musa Al Asy’ari).

Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam menjelaskan bahwa teman yang baik akan menguntungkan kita sedikit atau banyak. Sebagaimana teman yang buruk akan merugikan kita sedikit ataupun banyak.

Tetapi siapakah teman yang baik, dan siapa pula teman yang buruk ?

Barometer Sobat Sejati

Sebagai agama yang sempurna, Islam tidak mungkin melewatkannya dari pembahasanya. Ada beberapa ayat dan hadits yang membahasnya, di antarannya firman Allah Ta’ala

Mereka saling nasehat-menasehati dalam kebenaran”. (QS. Al-‘Ashr:3)

Juga sabda Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam,

Bantulah saudaramu ketika ia berbuat zhalim atau ketika ia di zhalimi!”. Para sahabat bertanya, “ wahai Rsulullah, membantu saudara kita ketika di zhalimi sudah maklum bagi kami, tapi apa maksudnya membantu dia ketika ia berbuat zhalim ?”. Beliau menjawab, “Engkau cegah ia”. (HR. Bukhari dan Muslim, dengan redaksi Bukhari, dari hadits Anas bin Malik).

Sedikit banyaknya ayat dan hadits dan dalil-dalil yang senada sudah menggambarkan kepada kita kriteria sobat sejati itu.

Kriteria sobat sejati itu adalah:

1. Senantiasa mengajak kita kepada kebaikan dan tidak tinggal diam ketika kita
terjerumus dalam kesalahan. Jika sebaliknya, maka itu indikasi dia bukanlah sobat
sejati kita.
2. Sobat sejati bukanlah yang mengajak kita untuk menghabiskan waktu dalam hal yang
kurang bermanfaat. Sampai-sampai lupa berjama’ah di Masjid.
3. Sobat sejati bukanlah yang menjauhkan kita dari thalabul ‘ilm, dengan mengajak kita
sibuk bekerja.
4. Sobat sejati bukanlah yang mendoktrin kita untuk membangun wala’ dan baro’ (cinta
dan benci karena Allah) di luar kepentingan yayasan, ormas, partai, ras, suku, daerah,
almamater, dan lainya.
5. Sobat sejati bukanlah yang hanya diam saja dan enggan untuk mengingatkan kita saat
melihat kita terjerumus dalam suatu kesalahan, baik salah dalam hal aqidah, ibadah,
manhaj dakwah, maupun akhlak dengan dalih menjaga tali ukhuwah.
6. Sobat sejati bukanlah yang tidak malu dan canggung untuk memberikan media-media
maksiat kepada kita.
7. Sobat sejati bukanlah yang menularkan “penyakit malas” kepada kita untuk pergi ke
Masjid yang paling utama.
8. Sobat sejati bukanlah yang mencontohkan kepada kita untuk sering absent dari belajar.

Tetapi………

- Sobat sejati itu adalah; ia tidak bosan mengajak kita berlomba-lomba dalam menimba
ilmu, baik di bangku belajar maupun di halaqah para ulama.
- Sobat sejati ialah: yang senantiasa mengajak kita untuk bersemangat dalam beribadah.
- Sobat sejati adalah: yang tidak bakhil untuk nelpon atau sekedar missed call di
waktu-waktu shalat.
- Sobat sejati ialah: yang tidak segan untuk menegur kita dengan bahasa yang santun,
jika kita keliru.

Tapi, sobat sejati juga yang :

- Jika kita berpapasan denganya, maka ia bersegera mengucapkan salam, menjabat tangan
serta bermuka manis.
- Jika kita tertimpa kesusahan, maka ia menunjukkan rasa empatinya. Serta bersegera
mengulurkan bantuan.
- Jika kita sedang ada masalah, ia pengertian untuk meluangkan waktunya untuk
mendengarkan curahan isi hati kita, serta berupaya memberikan solusi yang tepat.
- Jika kita terdesak dalam kebutuhan financial, maka dengan ringan ia meminjamkan
sebagian sezeki yang ia miliki.
- Jika kita sakit, ia segera mengantar kerumah sakit, mencarikan obat, atau menyediakan
makan. Sihingga kita tidak terpaksa pindah ke kelompok lain karena teman satu
kelompok kurang peduli dengan nasib kita.
- Jika kita sedang kesulitan dalam belajar, maka ia rela meluangkan waktu untuk
membantu kita mengatasi kesulitan itu.
- Kalau kita sedang naik angkutan, ia berusaha mendahului untuk membayarnya.
- Jika ia dapat kiriman dari rumah, ia tidak pelit membaginya pada kita.
- Jika akan pidah tempat, ia segera menawarkan bantuan.
- Jika kita khilaf hingg menyakiti perasaanya, ia segera memaafkan kita. Dan tidak
dendam kepada kita.
- Jika ia berbincang, maka ia bertutur dengan kata yang sopan serta memilih kata-kata
yang manis.
- Sesekali ia berkunjung ke tempat kita, atau mengajak kita makan bersamanya. Dalam
rangka mempererat tali ukhuwah.
- Dia bukanlah tipe orang yang senantiasa ingin menunjukkan kelebihannya pada orang
lain. Dari segi apapun.
- Dia senantiasa berusaha menyesuaikan diri dengan sifat dan tabiat temanya. Selama
tidak menyalahi syari’at.


Dimanakah kita bisa menemukan sobat sejati tersebut ?

Tempat yang sangat ideal untuk menemukan sobat sejati adalah dalam halaqah-halaqah ilmu syar’i, karena tidak ada orang yang paling mulia akhlaknya kecuali orang yang mengamalkan ilmu syar’i yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam. Atau dengan cara mengujinya, sesuai atau tidak dengan kriteria-kriteria di atas.
Wallahu a’lam

Dikirim pada 12 Maret 2011 di KATA-KATA BERHARGA
12 Mar

SETIAP BID’AH ADALAH KESESATAN
Oleh: Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-’Utsaimin

Apabila masalah tadi sudah jelas dan menjadi ketetapan saudara, maka ketahuilah bahwa siapapun yang berbuat bid’ah dalam agama, walaupun dengan tujuan baik, maka bid’ahnya itu, selain merupakan kesesatan, adalah suatu tindakan menghujat agama dan mendustakan firman Allah Ta’ala, yang artinya : " Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu ....." . Karena dengan perbuatannya tersebut, dia seakan-akan mengatakan bahwa Islam belum sempurna, sebab amalan yang diperbuatnya dengan anggapan dapat mendekatkan diri kepada Allah belum terdapat di dalamnya.

Anehnya, ada orang yang melakukan bid’ah berkenan dengan dzat, asma’ dan sifat Allah Azza wa Jalla, kemudian ia mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk mengagungkan Allah, untuk mensucikan Allah, dan untuk menuruti firman Allah Ta’ala.

"Artinya : Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah". [Al-Baqarah : 22]

Aneh, bahwa orang yang melakukan bid’ah seperti ini dalam agama Allah, yang berkenan dengan dzat-Nya, yang tidak pernah dilakukan oleh para ulama salaf, mengatakan bahwa dialah yang mensucikan Allah, dialah yang mengagungkan Allah dan dialah yang menuruti firman-Nya : "Artinya : Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah", dan barangsiapa yang menyalahinya maka dia adalah mumatstsil musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), atau menuduhnya dengan sebutan-sebutan jelek lainnya.

Anehnya lagi, ada orang-orang yang melakukan bid’ah dalam agama Allah berkenaan dengan pribadi Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam. Dengan perbuatannya itu mereka menganggap bahwa dirinyalah orang yang paling mencintai Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam dan yang mengagungkan beliau, barangsiapa yang tidak berbuat sama seperti mereka maka dia adalah orang yang membenci Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam, atau menuduhnya dengan sebutan-sebutan jelek lainnya yang biasa mereka pergunakan terhadap orang yang menolak bid’ah mereka.

Aneh, bahwa orang-orang semacam ini mengatakan : "Kamilah yang mengagungkan Allah dan Rasul-Nya". Padahal dengan bid’ah yang mereka perbuat itu, mereka sebenarnya telah bertindak lancang terhadap Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala telah berfirman.

"Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". [Al-Hujuraat : 1]

Pembaca Yang Budiman.

Disini penulis mau bertanya, dan mohon -demi Allah- agar jawaban yang anda berikan berasal dari hati nurani bukan secara emosional, jawab yang sesuai dengan tuntunan agama anda, bukan karena taklid (ikut-ikutan).

Apa pendapat anda terhadap mereka yang melakukan bid’ah dalam agama Allah, baik yang berkenan dengan dzat, sifat dan asma’ Allah Subhanahu wa Ta’ala atau yang berkenan dengan pribadi Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam. Kemudian mengatakan : "Kamilah yang mengagungkan Allah dan Rasulullah ?".

Apakah mereka ini yang lebih berhak disebut sebagai pengagung Allah dan Rasulullah, ataukah orang-orang yang mereka itu tidak menyimpang seujung jaripun dari syari’at Allah, yang berkata : "Kami beriman kepada syari’at Allah yang dibawa Nabi, kami mempercayai apa yang diberitakan, kami patuh dan tunduk terhadap perintah dan larangan ; kami menolak apa yang tidak ada dalam syari’at, tak patut kami berbuat lancang terhadap Allah dan Rasul-Nya atau mengatakan dalam agama Allah apa yang tidak termasuk ajarannya ?".

Siapakah, menurut anda, yang lebih berhak untuk disebut sebagai orang yang mencintai serta mengagungkan Allah dan Rasul-Nya .?

Jelas golongan yang kedua, yaitu mereka yang berkata : "Kami mengimani dan mempercayai apa yang diberitakan kepada kami, patuh dan tunduk terhadap apa yang diperintahkan ; kami menolak apa yang tidak diperintahkan, dan tak patut kami mengada-adakan dalam syari’at Allah atau melakukan bid’ah dalam agama Allah". Tak syak lagi bahwa mereka inilah orang-orang yang tahu diri dan tahu kedudukan Khaliqnya. Merekalah yang mengagungkan Allah dan Rasul-Nya, dan merekalah yang menunjukkan kebenaran kecintaan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.

Bukan golongan pertama, yang melakukan bid’ah dalam agama Allah, dalam hal akidah, ucapan, atau perbuatan. Padahal, anehnya, mereka mengerti sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam.

"Artinya : Jauhilah perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan masuk dalam neraka".

Sabda beliau : "setiap bid’ah " bersifat umum dan menyeluruh, dan mereka mengetahui hal itu.

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam yang menyampaikan maklumat umum ini, tahu akan konotasi apa yang disampaikannya. Beliau Shallallahu ’alaihi wa sallam adalah manusia yang paling fasih, paling tulus terhadap umatnya, tidak mengatakan kecuali apa yang dipahami maknanya, Maka ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda : "Kullu bid’atin dhalalah", Beliau menyadari apa yang diucapkan, mengerti betul akan maknanya, dan ucapan ini timbul dari beliau karena beliau benar-benar tulus terhadap umatnya.

Apabila suatu perkataan memenuhi ketiga unsur ini, yaitu : diucapkan dengan penuh ketulusan, penuh kefasihan dan penuh pengertian, maka perkataan tersebut tidak mempunyai konotasi lain kecuali makna yang dikandungnya.

Dengan pernyataan umum tadi, benarkah bahwa bid’ah dapat kita bagi menjadi tiga bagian, atau lima bagian ?

Sama sekali tidak benar. Adapun pendapat sebagian ulama yang mengatakan bahwa ada bid’ah hasanah, maka pendapat tersebut tidak lepas dari dua hal.

Pertama : kemungkinan tidak termasuk bid’ah tapi dianggapnya sebagai bid’ah.
Kedua : kemungkinan termasuk bid’ah, yang tentu saja sayyi’ah (buruk), tetapi dia tidak mengetahui keburukannya.

Jadi setiap perkara yang dianggapnya sebagai bid’ah hasanah, maka Jawabannya adalah demikian tadi.

Dengan demikian, tak ada jalan lagi bagi ahli bid’ah untuk menjadikan sesuatu bid’ah mereka sebagai bid’ah hasanah, karena kita telah mempunyai senjata ampuh dari Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam, yaitu :

"Artinya : Setiap bid’ah adalah kesesatan"

Senjata itu bukan dibuat di sembarang pabrik, melainkan datang dari Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam dan dibuat sedemikian sempurna. Maka barangsiapa yang memegang senjata ini tidak akan dapat dilawan oleh siapapun dengan bid’ah yang dikatakannya sebagai hasanah, sementara Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam telah menyatakan : "Setiap bid’ah adalah kesesatan".


[Disalin dari buku Al-Ibdaa’ fi Kamaalisy Syar’i wa Khatharil Ibtidaa’ edisi Indonesia Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid’ah karya Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-’Utsaimin, penerjemah Ahmad Masykur MZ, terbitan Yayasan Minhajus Sunnah, Bogor - Jabar]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=mo re&article_id=982&bagian=0

Dikirim pada 12 Maret 2011 di BID’AH ITU SESAT
Awal « 1 2 3 4 » Akhir


connect with ABATASA